Bagaimana pun baiknya kita berlaku baik, memang akan ada orang yang merasa bahwa kita tidak cukup baik baginya
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Oktober 2015

Siapa yang bodoh?

Siapa yang bodoh?
Oleh: Yusuf al-hamdani


Jangan menganggap bodoh orang yang belum tentu bodoh
Siapa tahu, kamu sendiri yang bodoh
Atau bahkan, lebih bodoh
Dari orang yang kamu anggap bodoh

Berawal dari cerita tentang pengalaman saya, waktu itu saya disuruh orang tua untuk menjaga warung. Dan kebetulan, dalam soal hitung-menghitung kemampuan saya memang agak lemah. Mangkannya tak jarang orang di kampong saya sering merendahkan saya karena kemampuan matematika saya yang lemah ini. Padahal, saya ini seroang mahasiswa. Dan tentunya, orang-orang tidak mau tahu tentang apa jurusan saya. Yang mereka tahu, yang namanya mahasiswa itu pasti bisa dalam segala hal. Namun, pada kenyataan nya, tak ada manusia yang sesempurna itu.

Tentu saja akan sangat berbahaya, jika dalam urusan perdagangan namun sang penjualnya itu tidak bisa menghitung. Bukannya untung, tapi malah rugi besar dagangannya. Tak jarang juga, nantinya kesempatan ini akan di manfaatkan oleh para pembeli. Saya sendiri dalam hal hitung-menghitung, kalau di katakan gak bisa ya gak mungkinlah. Saya juga belajar matematika dari SD sampai SMA. Tapi semenjak lulus dari SMA kemampuan saya dalam menghitung jarang dilatih lagi, sehingga berkurang lah kemampuan saya. Tak jarang saya sering melakukan kesalahan ketika ada yang belanja ke warung saya. Apalagi, ketika saya menjaga warung sambil baca buku, tentu hal ini paling riskan untuk saya melakukan kesalahan ketika menghitung belanjaan ketika ada pembeli yang berbelanja, disebabkan karena tidak konsenrasi.

Tapi ketika saya salah menjumlah, beberapa saat kemudian ketika sang pembeli sudah meninggalkan warung saya, saya akan tersadar kalau hitungan saya tadi salah. Dan saya yakin saya memang salah, namun saya tetap membiarkan nya. Tidak terbesit sedikit pun dalam benak saya untuk mengambil nya kembali. Karena bagi saya hal itu tentu akan lebih merendahkan saya nantinya. Maka, saya membiarkan saja pembeli itu membawa kembalian lebih. Toh, sekaligus menguji kejujuran nya. Sebatas mana kejujurannya, jika dia tahu bahwa uang itu lebih namun tetap tidak dikembalikan ya berarti disitulah saya akan tahu bahwa dia itu tidak jujur. Namun jika dia tidak tahu, ah saya gak yakin kalau dia tidak tahu. Karena betapapun orang itu, baik lulusan SD maupun tidak sekolah sama sekali, kalau di hadapkan dengan urusan hitung-menghitung duit pasti jago.

Kesalahan saya tersebut dalam soal hitung-menghitung tentu akan semakin merendahkan diri saya. Tapi biarlah, uang yang lebih itu mungkin memang rezekinya. Dan untuk apa saya ambil lagi, toh kalaupun di ambil, pembeli tadi belum tentu ngaku. Atau kalaupun ngaku, pasti dia pura-pura gak tahu. Kejadian tersebut sekaligus menguji seberapa tingkat kejujuran mereka. jika saya benar-benar yakin kalau kembalian saya pada si A salah, otomatis saya akan tahu bahwa si A itu tidak jujur. Dia memanfaatkan situasi yang ada untuk mencari keuntungan. Meskipun dalam hal ini saya sudah mengikhlaskan nya. Tentu saja si A tetap akan berdosa karena ketidak jujurannya tadi.

Nah, kalau sudah seperti ini, siapa yang bodoh? Tentu saja pembaca bisa menilai sendiri. Dalam kejadian ini bukan berarti saya bodoh dalam soal hitung-menghitung. Namun itu hanya keteledoran saya, pikiran saya terlalu focus pada buku yang sedang saya baca. Biarlah penilaian mereka apa dan bagaimana terhadap saya. Yang jelas kita memang harus cerdas dalam situasi apapun. Orang yang kita anggap bodoh belum tentu dia bodoh. Bisa jadi, dia hanya sedang menguji seberapa tingkat kejujuran mu ketika kamu dihadapkan pada situasi seperti itu.

Dalam kitab Mantsur al-hikam, Ibn al-mu’taz mengatakan, “Orang berilmu mengenali orang bodoh karena kebodohannya, dan orang bodoh tidak mengetahui orang berilmu karena ia memang tidak punya ilmu. Dan hal itu memang benar adanya. Karenanya, mereka berpaling dari ilmu dan orang-orang berilmu, sama seperti orang zuhud berpaling dari dunia dan para pembangkang berpaling dari kebenaran. Sebab, jika seseorang tidak mengetahui sesuatu, maka ia akan memusuhinya.”

Terkait dengan masalah untung rugi, biarlah saya serahkan kepada Allah. Biar Allah yang menggantinya. Mungkin itu rezekinya si pembeli tadi, bukan rezeki saya. Atau bisa jadi Allah ingin mengatakan, “Tuh, orang ini wataknya kaya gini. Kamu harus tahu itu. mangkannya kamu harus hati-hati sama dia, kelihatannya emang baik, tapi tanpa kamu sadari dia juga bisa berbuat jelek ketika ada kesempatan.”

Kalau gitu terus, bakal rugi besar dong?
Ya gak harus gitu mulu kali, kesalahan yang telah lalu dijadikan pelajaran untuk nanti kedepannya jangan sampai kita melakukan hal yang sama. Jika kita pernah melakukan kesalahan dalam hitungan jual beli pada si A dan sudah tahu sifat si A yang sebenarnya. Maka, tidak perlu harus kita ulangi lagi. dan lagian kesalahan dalam menghitung tadi kan itu karena faktor ketidak sengajaan.

Alhamdulillah selama ini kesalahan saya dalam soal hitung menghitung Cuma salah sekali pada satu orang saja. maksudnya, ketika si A berbelanja, pasti saya pernah melakukan kesalahan menghitung atas belanjaan nya. Kemudian si B juga berbelanja, saya pun pernah melakukan kesalahan menghitung juga. Dan ini terjadi hanya sekali saja pada satu orang. Namun parahnya, mereka tidak pernah mau jujur. Mungkin pembaca ada yang berkomentar, mungkin saja pembeli tadi emang tidak tahu. Tapi saya tidak berpendapat begitu. Karena setiap kali ada orang yang belanja ke warung saya pasti sebelumnya pernah di hitung-hitung dulu oleh pembeli tadi. Dan lagipula, seperti yang sudah saya katakan tadi, kalau sekarang tuh gak mungkin ada orang yang gak bisa menghitung duit, kecuali orang itu sudah tua dan pikun.

Ada juga pembeli yang jujur. Pernah waktu itu saya melayaninya. Namun lagi-lagi saya salah menghitung, tapi dia bilang, ‘salah nih, huh gimana sih mahasiswa, masa ngitung aja gak bisa’. Jleb.. luar biasa sakitnya di katain kaya gitu. Tapi saya sabar aja, mereka tuh taunya mahasiswa itu pandai dalam segala hal padahal sebenarnya tidak seperti itu. karena kita di perguruan tinggi, ilmu yang kita fokuskan untuk di perdalam itu bukan semua bidang ilmu tapi satu bidang ilmu saja yang kita ambil yang biasa disebut sebagai jurusan. Dalam soal hitung-menghitung juga itu adalah ilmu dasar yang wajib di kuasai oleh setiap individu. Dan seperti yang sudah saya katakan di atas. Saya salah bukan berarti saya tidak bisa menghitung. Karena memang ada beberapa faktor. Mungkin karena saya kurang konsentrasi, karena terlalu focus sama buku yang saya baca. Dan bisa juga teledor, atau kurang hati-hati. Dan hal ini bukan berarti saya bodoh. Hati-hati dengan setempel bodoh terhadap seseorang. Bisa saja ketika menganggap orang itu bodoh padahal belum tentu dia bodoh. Bisa jadi dia hanya sedang menguji kejujuran kita.

Seperti yang telah saya tulis dalam artikel saya beberapa bulan yang lalu tentang ‘smart limited’. Mungkin pembaca ada yang pernah membacanya. Terkadang orang itu hanya mampu melihat seseorang dari satu sisi saja tidak dengan melihat sisi yang lain. Mereka tidak pernah berfikir “ah mungkin dia begini karena begini, atau dia begitu karena begitu”. Jarang sekali orang yang berfikir seperti itu. yang selalu di kedepankan itu selalu pandangan negative. Coba kalau semua orang selalu berfikir positif dan selalu melihat dari dua sisi. Tentu tidak akan ada manusia-manusia yang memiiliki perangai jelek dan selalu berprasangka buruk pada orang lain.

Akhir kata, semoga tulisan ini bisa mengingatkan kita untuk selalu tidak memandang rendah orang lain. Apalagi seorang penuntut ilmu, karena bagaimanapun juga betapapun banyaknya kita melihat kekurangan yang ada pada dirinya, ketahuilah bahwa dibalik itu semua ada kelebihan nya yang tersembunyi yang tanpa kita sadari bahkan bisa jadi jauh dibanding kita.

Tulisan ini bukan untuk menggurui tapi hanya sekedar nasehat untuk kita semua. agar kita tidak terjebak dengan kondisi-kondisi yang justru nantinya malah akan membuka aib kita sendiri akibat perbuatan kita yang terlalu sering menganggap rendah orang lain.



Catatan Remaja Muslim

Jum’at, 30 Oktober 2015

Kamis, 22 Oktober 2015

Sukses tak berbekal takwa (2)

Sukses tak berbekal takwa (2)
Oleh: Yusuf al-hamdani


Beberapa hari yang lalu saya pernah menulis tentang cerita Herman yang pergi merantau ke kota untuk mengadu nasib. Bagi kamu yang belum baca cerita awalnya, silahkan di lihat-lihat lagi tulisan saya sebelumnya di at-alkhansa.blogspot.com masih dengan judul yang sama.

Well, kita lanjut ceritanya. Sudah empat tahun herman tak ada kabar sama sekali dari semenjak kepergiannya ke kota. Usut punya usut, ternyata herman ini sudah sukses, bahkan sudah punya mobil dan rumah. Lalu bagaimana ceritanya dia bisa mendadak kaya seperti itu. padahal sebelumnya dia masih anak udik tengil yang sepeda motor pun tidak punya.

Jadi gini, ketika dia sampai ke kota, dia tidak tahu mau kerja apa. Kenalan tidak punya, teman yang berangkat bersamanya sudah memiliki perkerjaan masing-masing karena kedua temannya itu adalah lulusan SMA. Sementara dia hanya lulusan SD, jelas tak ada perusahaan yang mau menerimanya. Kemudian di perjalanan nya, dia melihat seorang yang sedang memint-minta. Herman terus memperhatikan pengemis itu dan pada akhirnya munculah dalam benaknya untuk melakukan hal yang sama. Karena dengan mengemis dia akan mendapatkan uang dengan mudah dan lagi pula tak ada orang yang mengenalinya.

Maka jadilah ia seorang pengemis hari itu juga, ia kumpulkan uang hasil ngemis itu selama dua tahun. Setelah pengalaman nya dalam khasanah pengemisan mulai luas. Maka ia memberanikan diri untuk merekrut anak-anak kecil yang tidak punya orang tua (yatim).

Hari demi hari, bulan demi bula dan tahun demi tahun berganti, akhirnya herman menjadi seorang yang kaya raya. Tidak perlu bekerja keras, ia hanya perlu menagih dari hasil anak-anak yang meminta-minta. Penghasilannya dalam sehari luar biasa banyak. Bukan hanya cukup untuk makannya tetapi juga cukup untuk membeli mobil dan rumah dari hasil meminta-minta selama 4 tahun.

Kini sudah enam tahun, ia meninggalkan kampung dan tak ada kabar sama sekali sampai orang tuanya sudah mengikhlaskan putra satu-satu nya itu. orang tuanya tidak tahu tentang kesuksesan anaknya, yang dia tahu kata dukun yang ia tanyai anaknya sudah hidup tenang. Aritnya orang tua herman menganggap kalau herman itu sudah meninggal.

Para pembaca sekalian, saya rasa terlalu panjang jika cerita tentang si herman ini di ceritakan secara detail. Dan saya ingin langsung menceritakan ending nya saja, karena inti dari tulisan ini bukan sedang menceritakan kisah hidup si herman, tapi tentang pelajaran yang bisa kita petik dari perjalanan herman dari awalnya miskin kemudian sukses sampai kembali miskin lagi.

Kenapa bisa miskin lagi?
Ya begitulah, jika melakukan sesuatu tanpa ketaatan kepada Allah semua akan berakhir sia-sia. Cerita hidup herman ini telah mengingatkan kita bahwa kita hidup di dunia ini bukan hanya sekedar mencari harta dan kesenangan duniawi. Tetapi juga untuk beribadah kepada Allah SWT, menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.

Apa yang dilakukan herman ini jelas kesalahan besar. Selain mendapatkan harta dari cara yang haram, ia juga sampai lupa pada orang tua. Padahal orang tuanya itu begitu mengkhawatirkannya. Hidup yang sedari kecil sampai dewasa tanpa di bekali dengan pengetahuan agama hingga membuat herman lupa segalanya. Dia lupa untuk apa dia hidup, dia lupa tentang pekerjaan yang dia tekuni itu salah. Dia lupa bahwa sebagai seorang muslim wajib mengasihi anak yatim.

Parahnya, orang tuanya pun tak pernah mendidik herman waktu kecil dengan pendidikan agama. Hingga menjadikan herman seperti sekarang ini. Yang seolah-olah kita hidup di dunia ini untuk selamanya. Padahal kita hidup dunia tidak lain hanya untuk mampir saja. untuk apa hidup bahagia, harta berlimpah tapi tidak punya agama. Dan orang tuanya pun sama, pergi ke dukun untuk bertanya sesuatu. Dia lupa bahwa ada Allah yang bisa memberikannya jawaban terbaik. Dia lupa bahwa Allah maha segalanya.

Sampai pada akhirnya, herman kembali ke kampoug dalam keadaan tak bernyawa. Dia di keroyok oleh sekolompok preman, yang punya wilayah di situ. Orang tuanya hanya bisa meratapi kepergian herman. Dia tidak menyangka kalau anaknya bisa melakukan hal sebejat itu. Menjadi pengemis, lalu memperkerjakan anak yatim untuk mengemis juga. Sampai orang tuanya sadar bahwa selama ini apa yang dia lakukan salah. Dia merasa bukan orang tua yang baik. sudah miskin harta, tapi miskin iman juga.

Cerita ini hanya karangan penulis semata, tapi penulis yakin pernah juga terjadi di sekitar kita. bagaimana orang begitu ambisius dalam mengejar dunia, sampai lupa akhirat. Menjual ijazah, ataupun memakai ijazah palsu adalah hal yang biasa. mereka tidak takut dosa. Kita sering menyaksikan hal semacam ini. Padahal pekerjaan yang halal meskipun gajinya sedikit itu lebih baik daripada kaya namun tidak berkah.


23 Oktober 2015

Catatan Remaja Muslim

Minggu, 18 Oktober 2015

“Sukses Tak berbekal Takwa”

“Sukses Tak berbekal Takwa”
Oleh: Yusuf al-hamdani


Bismillahirohmanirrohim..
Semua orang yang hidup didunia ini pastinya menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya. Terlepas dari bagaimana memperolehnya, tidak peduli, yang penting hidup bahagia dan apa yang menjadi keinginan bisa menjadi kenyataan.

Bahagia adalah satu hal yang didapatkan ketika kesuksesan telah tercapai. Sukses sifatnya umum, bisa mencapai tujuan dengan selamat itu juga termasuk sukses. Atau bisa juga ketika kita mendapatkan apa yang tengah kita impi-impikan selama ini atau juga berhasil meraih prestasi akademik dan sebagainya itu juga termasuk kategori sukses.

Hidup sejahtera, apalagi bisa mensejahterakan orang-orang di sekeliling kita adalah sukses yang luar biasa. Siapa yang bisa sepeti ini? Tentu jarang sekali, banyak kita temukan orang-orang yang sudah hidup sejahtera namun belum bisa mensejahterakan orang lain padahal dirinya mampu untuk berbuat demikian. Jangankan untuk mensejahterakan orang lain, keluarganya pun bahkan orang tua nya masih belum sejahtera. Egoiskah orang seperti ini? Tentu saja iya. Buat apa hidup bahagia sejahtera namun hanya dinikmati sendiri saja. sedangkan orang disekitarnya masih sengsara. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bisa bermanfaat bagi sesamanya.

Saya punya cerita, ini hanya sekedar ilustrasi saja dan karangan saya semata, namun insya Allah cerita ini pernah terjadi disekitar kita. entah siapa pelakunya yang jelas bukan itu yang kita permasalahkan tapi bagaimana kita dapat mengambil pelajaran daripada cerita berikut ini.

Sebutlah namanya Herman, dia ini remaja yang baru berumur 16 Tahun. Tinggal di sebuah kampong yang hampir penduduknya orang-orang mampu. Namun lain hal nya dengan dia, terlahir dari keluarga miskin membuat dia selalu terkucilkan dan termajinalkan. Disaat teman-teman seusianya sekolah, dia hanya bisa meratapi nasibnya. Dia bisa apa, jangan kan sekolah untuk makan sehari-hari saja masih susah payah.

Suatu hari dia di ajak oleh kedua temannya untuk ikut pergi ke kota. Dengan harapan disana dia bisa merubah nasibnya. Namun sayangnya, dia tidak memiliki bekal untuk pergi ke sana. Kabar ini sampailah kepada orang tuanya. Karena kasihan melihat anak lelaki satu-satunya ini maka orang tuanya berusaha untuk mencarikan dia modal untuk bekal anaknya. Teringat dia punya 6 ekor ayam dibelakang rumahnya, dan akhirnya dijualah 6 ekor ayam tersebut oleh orang tuanya untuk bekal anak nya itu.

Berangkatlah herman dengan kedua temannya. sesampainya di kota. Ada pabrik yang membutuh kan karyawan. Datanglah mereka bertiga untuk melamar, namun hanya herman yang tidak diterima, karena dia tidak memiliki ijazah. Sementara kedua temannya sama-sama lulusan SMA sedangkan dia hanya lulusan sekolah dasar (SD).

Dan berpisahlah herman dengan kedua temannya ini. Mungkin memang sudah nasib nya seperti itu dia pun menyadari hal itu. seharian dia menyusuri jalanan untuk mencari sebuah pekerjaan namun tak kunjung ia dapatkan. Namun di sebuah persimpangan ia melihat seorang yang minta-minta. Ia terus memperhatikan si peminta-minta itu. sampai akhirnya terbesitlah dalam benaknya untuk melakukan hal yang sama.

Sehari, dua hari. seminggu dua minggu ia tekun menjalani profesinya sebagai peminta-minta (pengemis). Ia bangga dengan profesi nya itu, selain tidak ada yang mengenalinya, dia juga bisa mendapatkan uang banyak dalam seharinya.

Empat tahun berlalu, kedua temannya sudah tiga kali pulang ke kampung. Namun herman belum sekalipun pulang. Bahkan memberi kabar pun tak pernah sama sekali. maka gegerlah orang sekampung terutama orang tuanya. Mereka khawatir dimana herman berada. Empat tahun tak ada kabar sama sekali. orang tua mana yang tidak cemas dan gelisah menghadapi situasi seperti ini.

Kini sudah enam tahun berlalu, orang tuanya sudah sering bertanya pada dukun. Namun jawaban dukun, herman sudah tenang disana. Apa maksud dari perkataan dukun itu. mungkinkah herman sudah meninggal dunia. Jawaban dukun tadi membuat orang tuanya semakin shock.

Ternyata di kota sana, herman sudah mendapatkan kehidupan yang lebih baik. bisnisnya semakin sukses dan kini dia sudah mapan. Namun meskipun begitu dia malah sibuk dengan bisnisnya dan lupa dengan kedua orang tuanya yang selama enam tahun ini mengkhawatirkannya dan selalu menunggu kabar darinya.

Usut punya usut, bisnis yang tengah dijalani herman ini adalah bisnis yang tidak baik. Ternyata dia menjadi bandar pengemis, dia menyuruh anak-anak kecil untuk mengemis, sementara dia enak-enakan di rumah mewah nya. Setiap tengah hari dan sore dia menagih hasil anak-anak yang mengemis itu. sungguh keterlaluan apa yang dilakukan herman. Tidak aneh jika dia mendadak kaya seperti itu. Dan orang tuanya kini telah mengikhlaskan kepergiannya. Mereka mengira, herman sudah meninggal.

Oke, sampai disini dulu ceritanya. Lain waktu kita akan lanjut lagi. tidak penting masalah cerita nya yang terpenting adalah pelajaran yang bisa kita petik dari cerita herman tadi. Seperti judul yang saya tulis di atas ‘sukses tak berbekal takwa’. Maka beginilah akhirnya. Kesuskesan yang di raihnya bukan lah dari jalan yang halal justru dari jalan yang haram. Padahal kita hidup didunia ini jika hanya untuk mengejar kebahagiaan tidak perlu hidup kaya raya dengan harta melimpah. Buktinya sering kita temukan banyak orang-orang kaya hidupnya masih menderita. Ada yang tidak di karunia anak, ada yang dijebloskan ke penjara, ada yang sakit-sakitan dan semacamnya. Apakah mereka bahagia, tentu tidak. Alangkah baiknya jika kekayaan itu di barengi juga dengan takwa. Insya Allah hidup akan berkah dan bahagia. Bahkan orang miskin pun bisa bahagia selama dia bertakwa. Kenapa, karena mereka selalu mensyukuri apa yang mereka miliki.

Kisah herman tadi telah menggambarkan bagaimana hidup yang tanpa dibekali takwa. Dia selalu iri melihat teman-teman seusianya yang setiap pagi selalu pergi ke sekolah sementara dirinya jangan kan untuk sekolah untuk makanan sehari-hari saja dia masih kesusahan. Padahal tujuan sekolah adalah untuk mencari ilmu, dan menghilangkan kebodohan yang ada dalam diri. Lantas kenapa begitu ngotot ingin sekolah. Jika memang tujuannya untuk mencari ilmu tanpa sekolah pun bisa. Bisa pergi ke pengajian-pengajian yang di adakan setiap akhir pekan, itu gratis. Atau bisa juga menuntut ilmu di pesantren, karena disana juga kita mendapatkan ilmu secara gratis tanpa di pungut biaya asalkan kita mau mematuhi segala aturan yang ada di pesantren itu. lantas apa bedanya pesantren dengan sekolah?.



18 Oktober 2015

Catatan Remaja Muslim

Kamis, 15 Oktober 2015

Punya Masalah Dekati Allah

Punya Masalah Dekati Allah
Oleh: Yusuf al-hamdani

Beberapa hari yang lalu saya berkunjung atau tepatnya mampir sebentar ke perpustkaan daerah bersama seorang teman. Namun sewaktu dalam perjalanan teman saya sempat bercerita tentang masalah hidupnya yang sekarang katanya hidupnya selalu di rundung masalah. Dan katanya juga gak pernah ada habisnya tuh masalah datang silih berganti. Masalah yang pertama saja belum selesai kemudian datang lagi masalah baru. Tapi saya cukup bangga pada teman saya ini, beliau melanjutkan ceritanya kalau masalah yang sering menghampirinya itu bisa jadi disebabkan karena dosa-dosa yang telah dibuatnya.

Tentunya, saya pun menyadari bahwa yang namanya manusia takan pernah terbebas dari yang namanya melakukan dosa. Ketika sudah bertaubat pun pasti bakal ngelakuin dosa lagi dan lagi. Kalau sudah taubat dari dosa yang satu kemudian melakukan lagi dosa lainnya mungkin wajar. Tapi kalau ngelakuin dosa yang itu-itu saja, itu namanya sih kurang ajar. Sudah taubat, ngelakuin lagi kemudian taubat lagi, ngelakuin lagi gitu aja gak pernah ada kapok nya. Kalau kata orang mah itu taubat sambel namanya, alias udah taubat dan menyesali segala perbuatannya tapi tetap saja melakukan dosa yang sama terus-menerus.

Kembali pada cerita teman saya tadi, lalu saya katakan tuh pada beliau, kita emang gak akan pernah bersih dari yang namanya dosa, meskipun sudah taubat juga tetap saja bakal ngelakuin dosa lagi karena kita bukan malaikat. Dan lagi pula meskipun kita sudah berusaha jauhin tuh dosa tetap saja syetan punya seribu cara buat jerumusin kita. karena syetan dalam urusan goda-menggoda mah udah ahlinya. Pengalaman mereka udah banyak, bayangin aja dari zaman nabi Adam sampai sekarang. Mangkannya gak heran kalau ada orang setingkat kiyai bisa tergoda juga karena begitulah, apalagi kita yang orang biasa.

Tapi sebisa mungkin, kita berusahalah untuk tidak terhasut dengan rayuan nya syetan, karena terkadang cara syetan menjerumuskan kita tuh bukan dengan cara yang keji, melainkan dengan cara yang halus dan dengan perkataan yang baik. Ingat kan bagaimana Nabi Adam bisa tergoda oleh syetan ketika di surga. Mangkannya kita harus hati-hati dengan bujuk rayunya, yang tekadang menurut kita baik, belum tentu itu baik. kadang juga yang menurut kita buruk belum tentu itu buruk menurut Allah.
  “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-baqarah: 216).

Kesulitan-kesulitan yang sedang menimpa teman saya itu tidak lain adalah akibat dari perbuatan dosa-dosa nya. Mungkin ini peringatan dari Allah agar beliau lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Saya coba untuk menasehatinya dan mencoba untuk memberikan sedikit masukan, ya semoga saja bisa mengurangi beban nya. Dan saya tuliskan disini juga semoga bisa bermanfaat buat pembaca sekalian.

Saya katakan sama beliau, biar kesulitan itu hilang cobalah untuk berdoa sama Allah, minta sama Allah agar selalu diberikan kemudahan. Dan minta juga agar segala permasalahan yang menimpa antum segera hilang. Kemudian saya tanya sama beliau, apa antum pernah berdoa sama Allah setelah selesai shalat untuk di mudahkan segala urusan?. Jawaban beliau sudah bisa saya tebak. Katanya belum sama sekali.

Ya iyalah, kitanya aja sombong, terus ngapain juga Allah nolongin orang-orang yang sombong kaya gitu. Kenapa Cuma berdoa saja susah nya pake banget. Padahal Cuma lima menit saja setelah shalat. Shalat itu gak hanya sekedar menggugurkan kewajiban. Tetapi juga sarana untuk kita curhat sama Allah, tempat untuk meminta sama Allah dan tempat untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya.

Mangkannya mulai dari sekarang mulai deh tuh perbanyak berdoa. Tapi ingat jangan Cuma berdoa saja tapi harus satu paket. Shalat wajibnya sempurnakan, kemudian sunnah nya kita hidupkan, malamnya tahajud paginya dhuha. Kalau kaya gini kan keren. Hidup tuh serasa dekat sama Allah, kalau sudah dekat pasti deh tuh Allah bakal ngabulin doa-doa kita.

Terus malam jum’at nya baca surat al-kahfi, kalau gak sempet malam jum’at. Hari jum’at nya kan bisa. Kalau gak sempet  juga jum’at malamnya kan bisa. Dan kalau gak sempet juga baca saja sepuluh ayat pertama sama sepuluh ayat terakhir, kalau masih gak sempet juga, udah deh gak usah ngomong lagi, tetap tuh harus usahain buat ngamalin sunnah yang satu ini.

Saya cerita kaya gitu panjang lebar, kemudian dia tulis tuh di hp nya tentang amalan-amalan yang musti dia amalkan. Alhamdulillah dia bilang dia ingin ngamalin yang tadi saya sebutin. Aamiin semoga istiqomah. Insya Allah deh masalah kita cepet terselesaikan, karena sebelum saya cerita kaya gini saya juga pernah ngalamin hal yang sama. Kadang kalau sedang dirundung masalah bawaan nya pengen putus asa mulu. padahal rahmat Allah itu luas.



15 Oktober 2015

Catatan Remaja Muslim

Sabtu, 10 Oktober 2015

Teacher Problematic

Teacher Problematic
Oleh: Yusuf al-hamdani

Wuiiihhh keren kan judul nya pake bahasa inggris segala. Ya sekalian belajar pake bahasa inggris dikit-dikit lah gak papa kan. Itung-itung kita belajar bareng, oke guys.

Oke sesuai judul nya di atas teacher problematic alias guru bermasalah, itu yang akan saya bahas pada kesempatan kali ini. Kenapa ya dalam dunia pendidikan di Indonesia itu selalu aja muncul masalah-masalah yang tak pernah ada hentinya. Entah siapa yang salah dan siapa yang bertanggung jawab atas semua permasalahan yang ada dan juga bagaimana cara untuk memperbaiki pendidikan di negeri kita ini agar tidak terjadi lagi tindakan amoral, asusila dan sebagainya.

Tentunya semua pihak bertanggung jawab dalam setiap permasalahan yang ada, bukan hanya pihak internal dari sekolah tetapi masyarakat juga harus saling bahu-membahu dalam memperbaiki segala problematika yang ada dalam dunia pendidikan kita saat ini. Dan juga tidak saling salah menyalahkan ataupun saling menuduh satu sama lain. Karena pendidikan itu kunci utama dalam membangun sebuah peradaban dan memajukan bangsa, tentunya hal ini harus melibatkan semua pihak.

A: Cieee illeeh dalam banget kata-katanya.
B: ya gak papa atuh, kita kan sebagai pelajar harus kritis, tul gak.
A: betul aja dah.

"A teacher is a reflection for his students, if teachers have good moral, then his students will have a good moral. otherwise, if the teacher has a bad moral then the students will have a bad moral as well "

Sebagai seorang guru haruslah mempunyai karakter yang baik, yang mana bisa mencontohkan sisi-sisi positif dalam dirinya agar siswanya pun meniru apa yang dia lakukan. Bagaimana jadinya jika guru memiliki karakter yang jelek, apakah bisa guru-guru seperti itu menciptakan generasi-generasi yang hebat di masa depan kelak. Tentunya tidak mungkin terjadi karena bagaimana pun juga guru itu adalah panutan bagi murid-muridnya. Mereka sangat dihormati dan disegani, seorang guru adalah orang yang dikenal dengan ilmunya. Itu artinya, seorang murid itu hormat dan manut terhadap gurunya karena ilmu yang dimiliki oleh guru tersebut.

Saya punya cerita tentang salah seorang guru yang bermasalah dalam mengajar siswa-siswinya dikelas. Hal ini saya ketahui dari curhatan para siswa-siswi yang beliau ajar tersebut.

Setiap hari minggu kadang saya sering di undang oleh anak-anak rohis untuk memberikan arahan dan bimbingan nya, ya kalo bahasa kerennya sih jadi mentor gitu. Kebetulan saya alumni dari sekolah tersebut. So, saya juga ingin berperan dalam mengembangkan kegiatan eksatarkulikuler yang ada di sekolah tempat saya menimba ilmu dulu.

Ketika itu mereka sedang berdiskusi membahas agenda kegiatan rutin setiap hari minggu. mereka kebingungan untuk mencari ustadz untuk mengisi pengajian yang akan di adakan oleh anak-anak rohis tersebut. Lalu saya menyarankan agar yang mengisi pengajian itu gak perlu jauh-jauh. Disekolah ini kan punya guru agama, apalagi guru agama tersebut salah satu pembina di rohis ini. Saya katakan, gak enak kalo harus mengundang penceramah dari luar, sementara di sekolah juga punya orang yang sudah jelas background keagamaan nya.

Namun jawaban mereka begitu memprihatinkan. Mereka bilang, mereka gak suka dengan guru agama yang ada disekolah nya. Dengan alasan, guru tersebut suka nyolek-nyolek siswinya ketika proses belajar mengajar berlangsung. Tidak selesai sampai disitu, guru tersebut juga sering mengajarkan siswa nya hal-hal yang tidak pantas untuk diceritakan. Apalagi pada murid-murid SMP yang usianya baru menginjak baligh. Rasa penasaran mereka masih membludak, artinya jika diceritakan hal-hal yang berbau porno, otomatis mereka akan mencari tahu lebih dalam lagi tentang itu.

Apa maksudnya cerita porno?
Iya, cerita dari salah seorang siswa, guru tersebut ketika belaiu mengajar dikelas, beliau sering bercerita tentang masa lalu nya yang jelas-jelas tidak boleh di ceritakan oleh orang lain. Beliau bercerita tentang bagaimana beliau ketika pacaran dulu semasa remaja, semua yang berbau sex hampir beliau ceritakan, tidak ada rasa berdosa sama sekali. bagaimana proses beliau menaklukan hati wanita, kemudian bagaimana cara beliau mendapatkan bagian-bagian rahasia dari wanita, semua beliau ceritakan secara eksplisit. Seolah-olah guru tersebut sedang mengajarkan siswa nya untuk melakukan hal yang sama seperti yang beliau pernah lakukan dulu. Mungkin ada sebagian siswa yang senang mendengarkan cerita tersebut dan ada juga siswa yang gak suka dan malah jiji mendengarnya. Salah satunya siswi yang cerita ke saya ini. Dan yang cerita itu bukan satu orang saja, tapi anggota rohis pun sepakat bahwa guru tersebut tuh emang memiliki karakter yang tidak baik. Apalagi status beliau sebagai guru agama, dengan gelar yang disandang nya “S.Ag”. miris banget kan. Jika guru agama saja seperti itu lalu akan melahirkan generasi seperti apa kelak.

Mendengar cerita seperti itu, tentunya tidak aneh menurut saya. Karena memang, paham liberal ini hampir telah masuk dalam berbagai lini. Terutama dalam dunia pendidikan. Bagaimana kita lihat banyak di perguruan-perguruan tinggi yang berlandaskan islam pun harus terjangkit paham liberal seperti ini. Dan tidak aneh jika lulusan-lulusan nya pun banyak yang berpaham liberal. Guru agama yang liberal bisa kita jumpai secara langsung saat ini. Bukan hanya isu-isu semata, melainkan sudah menjadi fakta. Jika ada guru yang membebaskan segala bentuk perbuatan yang jelas-jelas dilarang dalam syari’at mungkin sudah bukan hal yang aneh lagi. maka tidak heran, jika akhlak pelajar saat ini semakin bobrok saja. karena pendidikan kita tidak hanya sedang di rusak dari luar tetapi juga dari dalam.

Dan juga ketika mendengar ada mahasiswa jurusan agama islam mengatakan bahwa tidur dengan lawan jenis yang bukan mahrom itu tidak mengapa itu sudah bukan menjadi hal yang aneh lagi. karena seperti itulah keadaanya. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya bahwa, orang-orang yang berpaham liberal sudah masuk dalam semua lini. Kurang nya pemahaman agama tentu akan membuat kita mudah terpengaruh dengan doktrin-doktrin mereka. baik atau buruk akan menjadi samar, sulit untuk di bedakan.

Memang tidak semua guru agama seperti itu. Saya yakin masih banyak guru-guru agama yang hebat yang memiliki suri tauladan yang baik. Namun, permaslahan yang terjadi di dunia pendidikan kita memang perlu di sorot. Karena orang-orang yang berpaham sesat seperti ini (liberal) memiliki pengaruh yang tidak bisa kita anggap remeh. Mereka-mereka inilah yang nantinya akan mewariskan paham-paham yang bertentangan dengan syari’at islam. Dan akan menciptakan generasi-generasi yang bebas tanpa peduli aturan-aturan agama. Kita sebagai orang yang masih melek harus menyadarkan dan memberikan pemahaman-pemahaman kepada orang-orang disekitar kita agar tidak terpengaruh juga dengan paham seperti ini.


Kamis, 08 Oktober 2015
Catatan Remaja Muslim



Kamis, 01 Oktober 2015

Ciptakan Mimpimu

Oleh: Yusuf al-hamdani


Mimpi adalah sebuah istilah yang digunakan oleh orang-orang untuk menggapai kebahagiaan hidup dan menjadikan sebagai tujuan hidup agar hidup lebih bermakna. Mimpi bukan hanya sekedar bunga tidur, tapi mimpi adalah pemompa semangat seseorang dalam menjalani kehidupannya.

Saya yakin dan sangat yakin kalau pembaca juga pasti memiliki mimpi, “ya iyalah tiap hari saya mimpi, giliran mimpi indah malah dibangunin”. Bukan, bukan itu yang saya maksud. Tapi mimpi disini adalah berupa sebuah harapan atau keinginan untuk bisa kita wujudkan di masa depan. Kalau mimpi di waktu tidur sih semua orang juga pasti pernah ngalamin. Memang gak enak banget pas lagi mimpi indah, eh ada orang yang ganggu tidur kita, dan ketika terbangun semua jadi sia-sia saja.

Dan pada akhir nya membuat kita untuk mengambil sebuah kesimpulan besar bahwa itu hanyalah bunga tidur alias pelengkap ketika kita tidur agar kita bisa tidur nyenyak. Ketika kita menjadi seorang milionare atau menjadi seorang pejabat atau bahkan menjadi orang terkaya se-asia tenggara, percuma saja. Itu hanya kita nikmati semalam saja, dan ketika pagi menjelang kita kembali pada kehidupan seperti biasa. Mangkannya gak enak kalau mimpi hanya sebatas bunga tidur saja.

Pada kesempatan kali ini saya ingin mengajak pembaca untuk sama-sama saling menciptakan mimpi kita. Jika masih ada yang belum punya impian dalam hidupnya, dan belum kepikiran sama sekali kepengen jadi apa nantinya, maka sekarang lah saat nya untuk membangun mimpi kita. kita ciptakan sebuah mimpi agar esok kita sambut masa depan yang lebih cerah.

“Mimpi saya terlalu tinggi jadi percuma aja saya bermimpi nanti terwujud nggak, ujung-ujung nya malah gila”. Tidak masalah dengan setinggi apapun impian kamu. Seperti yang saya katakan tadi. Tugas kamu pertama kali ketika membaca tulisan ini adalah menciptakan mimpi mu. Artinya cuma memulai untuk bermimpi saja dan tidak lebih dari itu. Bagaimana kita bisa menjadi orang sukses, atau kaya raya jika mimpi saja kita tidak punya. Satu pertanyaan penting dari saya, apakah kita bahagia jika hidup gini-gini aja?. Oke sepertinya memang harus dipikirkan lagi.

oOo

Orang yang memiliki impian bukanlah orang yang hina yang pantas untuk di tertawakan. Justru sebaliknya, orang yang sering menertawakan seseorang yang memiliki impian besar, maka hidupnya lah yang akan hina. Karena, jangan kan untuk bermimpi, hanya sekedar memiliki mimpi saja dia malas, dan takut. Malas untuk mewujudkannya dan takut jika nanti tidak terwujud yang ada malah jadi gila. Hanya orang-orang yang bermental tempe yang punya prinsip seperti ini. Kalah sebelum berperang, dan takut sebelum memulai. Lalu untuk apa hidup, apa hanya menunggu datang nya kematian.

Itulah, mengapa sebabnya kita harus punya mimpi dalam hidup ini, Imam Abul Faraj Ibnul Jauzi rahimahullah pernah berkata dalam kitab Awa’iquth Thalab yang saya kutib dari majalah Asy-Syari’ah, no. 53/v/1430 yang menagatkan,
“Jika engkau mampu untuk melampaui seluruh ulama dan orang-orang yang zuhud, maka lakukanlah. Karena sesungguhnya, mereka adalah lelaki dan engkau pun juga lelaki. Dan tidaklah pemalas itu bermalas-malasan melainkan karena rendah nya keinginan dan hinanya cita-citanya”.

Perkataan salaf tersebut adalah salah satu perkataan yang mampu memotivasi diri saya. Bahkan kutipan tesebut saya tempel di dinding kamar saya. Agar ketika saya sedang bermalas-malasan di dalam kamar, lalu membaca kutipan tadi, malas saya bisa hilang dan saya bisa kembali bersemangat untuk melakukan aktifitas rutin saya khususnya dalam menggapai segala yang menjadi impian saya.

Jangan pernah takut untuk menjadikan mimpi kita menjadi kenyataan “karena mereka lelaki dan engkau pun juga lelaki”. Jika impian mu adalah kepengen jadi seorang gubernur, tapi keadaan mu sekarang yang masih amburadul, tidak masalah. Seorang gubernur pun sebelum dia menjadi gubernur awal nya bisa saja sama seperti kamu saat ini. Bukanlah apa-apa dan bukanlah siapa-siapa. “lalu saya biasa apa”, jangan pernah terbesit sedikitpun dalam hati untuk berkata demikian. Harus selalu di ingat bahwa setiap manusia diberikan oleh Allah berupa kelebihan dalam dirinya masing-masing.

Namun jika mental kamu dari awal sudah ciut duluan sebelum jadi apa-apa, maka jangan harap kamu bisa mewujudkan impian kita. Waktu kamu terlalu berharga untuk di sia-siakan begitu saja. Apalagi kamu-kamu yang masih muda, jangan pernah kalah sebelum bertempur. Kamu harus bisa buktikan pada orang-orang disekeliling kamu kalau kamu juga bisa mewujudkan impian kamu.

oOo

Maka dari itu, mari kita ciptakan mimpi kita. Mulailah untuk menulis di dinding kamar, tuliskan apa yang menjadi impian mu untuk di wujudkan di masa depan nanti. Gak usah tanggung-tanggung dalam bermimpi, jangan hanya kepengen punya warung kecil atau toko kecil, itu sudah cukup. Jika impian yang besar lebih menggiurkan kenapa harus bermimpi yang rendahan.

Kepengen jadi dosen, jadi rector, jadi gubernur, jadi presiden atau jadi pengusaha, tidak masalah. Tugas kamu hanya menuliskannya di kertas ukuran besar dan tuliskan segala mimpi-mimpimu dalam ukuran huruf yang besar pula. Agar nantinya bisa dibaca oleh orang-orang yang masuk ke kamar mu, dan khususnya dibaca oleh kamu sendiri agar kamu gak lupa kalau kamu itu punya mimpi yang harus kamu wujudkan di masa depan nanti.

“Tapi apa gak malu jika di baca orang”, urusan malu atau di anggap childish alias kekanakan itu urusan belakangan. Biarkan mereka menertawakan kamu, yang penting kamu punya target untuk kamu wujudkan di masa depan. Kamu harus percara diri dan katakan pada dirimu sendiri bahwa “kamu boleh menertawakanku sekarang ini, tapi lihat nanti kamu akan berbalik mengagumiku”.

“menagapa harus menuliskannya di diding kamar”. Agar orang lain bisa membacanya dan otomatis tulisan itu akan menjadi do’a buat kamu dari mereka. Semakin banyak yang mendo’akan maka semakin besar pula impian kita untuk bisa terwujud. Karena do’a adalah senjata utama seorang muslim.

Gak percaya, silahkan coba dulu dan lihat hasil nya nanti. Insya Allah kamu akan mendapatkan apa yang kamu impikan. Kalau nantinya tidak sesuai dengan apa yang kamu selama ini impikan pasti jatuh nya tidak jauh koq. Misalkan, jika kamu selama ini memimpikan ingin menjadi gubernur, paling tidak kamu bisa mendapatkan sebuah jabatan di bawahnya, menjadi seorang bupati misalnya. Kan jatuh nya nggak jauh-jauh banget dari apa yang kamu targetkan. Mau gubernur atau bupati yang penting sama-sama bisa memiliki jabatan. Yang penting kamu sudah berusaha semaksimal mungkin.

So, untuk permulaan kita ciptakan mimpi kita terlebih dahulu. Dan ingat saran saya tadi untuk tuliskan mimpimu di dinding kamarmu, agar selalu mudah untuk membaca nya dan sekaligus menjadi do’a harianmu.

Ketika kamu sudah punya mimpi maka impian yang kamu miliki akan menjadikan mu semakin ambisius. Dari ambisi itulah apapun akan kamu lakukan untuk menggapai segala impianmu. Cemoohan atau rintangan di depan tidak akan pernah menyurutkan tekad dan ambisimu untuk mewujudkan segala impianmu.

“Emang kamu siapa beraninya nasehatin saya”, ya saya bukan siapa-siapa dan belum menjadi apa-apa saat ini. Tapi berbarengan dengan saya tulisnya buku ini, sebagai saksi bahwa saya pun bisa menjadi orang hebat di masa depan. Lagi pula tidak perlu harus sukses dulu untuk menulis buku ini, seperti hal nya bicara tentang kematian apakah kita harus mati dulu. Tentu tidak mungkin kan. Kita sama-sama masih muda, dan kita masih punya banyak kesempatan. Jika kita terus berusaha dan Allah sudah berkehendak “kun fayakun” maka terjadilah.




Sumber: Buku “Mari Bersahabat Dengan Impian dan Keinginan”

"Kapan Giliranmu"

Oleh: Yusuf al-hamdani


Seperti biasa, setiap perjalanan pulang dari kampus saya selalu menyempatkan untuk istirahat di sebuah masjid sambil menunggu datang nya waktu dzuhur. Biasanya saya berhenti di masjid at-taqwa pertengahan antara jarak ke kampus dengan rumah saya, namun kali ini saya istirahat di masjid yang berbeda yang jaraknya tidak jauh dari tempat tinggal saya.

Ketika memasuki waktu dzuhur, saya shalat bersama jamaah yang lain. Bukan tentang perbedaan cara shalat atau semacam nya yang ingin saya bahas. Tapi ada suatu pemandangan yang begitu memotivasi saya untuk terus berbenah diri, agar tidak menyesal di kemudian hari. dan semoga dari cerita saya yang saya tulis ini bisa bermanfaat dan bisa memotivasi pembaca semua untuk bisa seperti beliau apalagi kalian yang masih muda.

Ketika shalat. Di samping saya ada seorang kakek-kakek, tapi gak enak juga bilang kakek-kakek. Usianya sekitar 60-an lah kalau menurut saya. Dengan nafas nya yang ngos-ngosan, mungkin udah limited edition. Entah faktor usia, atau memang kena asthma. Saya tidak tahu lebih jauh tentang itu. kemudian dia hanya mampu menggerakan tangannya sebelah, hanya yang kanan saja. Dan yang kiri sudah tidak bisa di gerakan, mungkin karena terkena stroke.

Ketika hendak sujud pun, beliau hanya menahan tubuhnya dengan satu tangan saja sebagai tumpuannya. Begitu pun ketika beliau hendak berdiri.

Saya salut terhadap beliau, yang sudah tua dan sakit-sakitan tapi tetap bersemangat untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim. Mungkin pembanya bertanya, apa nya yang luar biasa? shalat itu kan emang kewajiban banyak kok yang sudah tua tapi tetap rajin shalat.

Ya menurut saya tetap luar biasa. Keimanan beliau begitu kuat sampai-sampai untuk meninggalkan shalat pun beliau takut. Beliau sadar bahwa beliau hidup tidak akan lama lagi, mungkin bisa dihitung dalam sekian hari atau sekian bulan saja. karena ajal manusia tidak ada yang tau. Coba bayangkan, jarang sekali ada orang yang sadar akan hal ini. Masih banyak disekiling kita orang-orang yang sudah tua namun masih saja foya-foya tak jarang banyak yang suka godain wanita.

Lalu, dalam keadaan tubuh yang sudah lemah dan sakit-sakitan, beliau tetap melaksanakan shalat. Kembali lagi saya katakan beliau memang luar biasa. karena pernah saya alami sendiri, ketika saya sakit, kepala saya pusing banget, untuk jalan pun tidak bisa, dan bawaan nya tuh pengen tidur mulu. bahkan shalat pun saya gak bisa, padahal jika dipaksain pasti bisa, Allah tidak pernah menyulitkan hambanya, ketika kita kesulitan berjalan untuk mengambil air wudhu kita bisa tayamum, ketika kita kesulitan berdiri untuk shalat, kita bisa shalat dengan duduk atau berbaring. Semua mudah, tapi kemauan nya yang gak ada. Mangkannya dulu saya malas banget ketika sedang sakit untuk melaksanakan shalat. Dan mungkin bukan hanya saya, pembaca juga pernah mengalaminya, betapa malasnya untuk melaksanakan shalat ketika dalam keadaan sakit.

Bicara tentang orang tua tadi atau kakek-kakek tadi, yang kondisi tubuhnya sudah lemah dan sakit-sakitan, namun tetap rajin beribadah. Yang menurut saya, beliau sudah dibiasakan untuk rajin shalat semasa mudanya. Dan ketika kita terbiasa untuk shalat sejak kecil, lalu kita jatuh sakit dan enggan untuk shalat, akan muncul perasaan berdosa, dan pikiran yang tidak karuan. Maka dari itu, jika sudah terbiasa melakukan sesuatu ketika sekali tidak melakukan lagi maka akan terasa ada yang kurang dalam keseharian kita. itulah mangkannya Rasulullah menyuruh agar para orang tua memerintahkan putra-puteri mereka untuk shalat ketika berumur tujuh tahun. Dan memukul mereka jika tidak mau shalat ketika umur sepuluh tahun. Betapa penting nya kedudukan shalat dalam agama kita.


Dan kemungkinan kedua yang menurut saya, bisa jadi beliau baru mendapatkan hidayah dimasa tuanya. Dan pembaca sekalian, saya ingatkan bahwa hidayah itu mahal. Tidak sembarang orang yang bisa mendapatkan hidayah-Nya Allah. Bahkan tidak jarang banyak orang-orang disekitar kita yang suka main judi, sampai tua pun bahkan sampai mereka mati pun tetap saja masih berjudi. Dan itu jumlah nya tidak sedikit. Mangkannya, bagi pembaca yang sampai saat ini jarang melaksanakan shalat, sekaranglah giliranmu, yuk mulai dari sekarang kita perbaiki shalat kita. dan jangan lupa berdoa agar kita di berikan keistiqomahan dalam menjalankan segala perintah-Nya. Kemudian yang shalat lima waktunya sudah bagus, jangan lupa untuk ditambah lagi ibadahnya dengan menghidupkan sunnah-sunnah Rasul-Nya.

Minggu, 02 Agustus 2015

Tentang Yusuf Khaerul Ikhwan

BIOGRAFI

Nama                           : Yusuf Al Hamdani bin Wada bin Bonar bin Kipan
Nama Panggilan           : Yusuf/Andan/Hamdan
Nama Lain                    : Yusuf Khaerul Ikhwan
Tempat Tanggal Lahir  : Karawang, 03 Juni 1993 / 13 Dzulhizah 1413 H
Website                       : at-alkhansa.blogspot.com
Facebook                      : facebook.com/yusufkhaerul
Twitter                         : @yusufkhaerul
Pernah belajar di          :
-         SD Negeri Sedari 3 (2000-2006)
-         SMP Negeri 2 Cibuaya (2006-2009)
-         SMK Yapinas Cibuaya (2009-2012)
-         Universitas Singaperbangsa Karawang (2012-2016)
-         IBEC Institute (2012-2013)

Guru-guru kami          :
·         Warno S.pd
·         Umar S.pd
·         Warjan
·         Darman S.pd
·         Ending hamdani S.pdi
v  Dana Supriadi S.pd
v  Edi junaedi
v  Arif rahman S.pd
v  Abdul Arif S.pd
v  Asep saepudin S.pd
v  Sarja S.E
v  Naimatu sadiah S.pd
v  Istiqomah S.pd
v  Adib Pratama S.pd
Ø  M. Nasir S.pdi
Ø  M. Ma’mun
Ø  Yakub S.pdi
Ø  Adim S.pd M.pd
Ø  Waskito S.sos
Ø  Ir. Lukman Hakim
Ø  Mulki
Ø  Yogi Hermansyah
Ø  Yuli S.pd
*      M. Reza Pahlevi S.pd M.pd
*      Umar Yais S.pd M.pd
*      Mobit S.pd
*      Iwan Ridwan S.pd
*      Putri Kamalia Hakim M.hum
*      Fauzi Miftakh S.pd
*      Maya Rahmawati S.s M.hum
*      Sidik Indra Nugraha S.pd M.pd
*      Dede Haris S.pd
*      Adhitya Rinaldi Irawan S.pd
*      Fathullah S.pd M.pd
*      Kulyana S.pd M.pd (Ibec Institute)
*      Nia Pujiawati S.s (Kaprodi FKIP UNSIKA)
*      Slamet Triyadi S.pd
*      H. Suyono S.s MA
*      Elih Sutisna Yanto M.pd
*      Nina Puspitaloka S.pd
*      Ahmad Dimyati S.pd M.pd
*      Bambang Ismaya S,pd M.pd
*      Mansyur Srisudarso S.pd M.pd
*      Abdul Kodir Al Baekani
*      Yuna Tresna Wahyuna M.pd
*      Hilmansyah
*      Acep Bahrum Kamil
*      Yogi Setia Samsi
*      Tarpan Suparman M.pd
*      HJ. Siti Masitoh S.pd
*      Sumarta S.S
*      Yousef bani Ahmad S.S


*Nama yg tidak ada gelarnya, ada sebagian yg memang belum punya gelar namun ada sebagian juga yang kami lupa gelarnya.