BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian
Pengelolaan
Tidak sedikit orang yang mengartikan
pengelolaan sama dengan arti manajemen. Karena antara manajemen dan pengelolaan
memiliki tujuan yang sama yaitu tercapainya tujuan organisasi lembaga. Pengelolaan
merupakan sebuah bentuk bekerja dengan orang-orang secara pribadi dan kelompok
demi tercapainya tujuan organisasi lembaga. satu yang perlu diingat bahwa
pengelolaan berbeda dengan kepemimpinan. Bila pengelolaan terjadi bila terdapat
kerjasama dengan orang pribadi maupun kelompok, maka seorang pemimpin bisa
mencapai tujuan yang diharapkan tanpa perlu menjadi seorang manajer yang
efektif.
Berikut adalah
pengertian pengelolaan:
1.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
Proses, cara, perbuatan mengelola; Proses melakukan kegiatan tertentu dengan
menggerakkan tenaga orang lain; Proses
yang membantu merumuskan kebijaksanaan dan
tujuan organisasi; Proses yang memberikan pengawasan pada
semua hal yang
terlibat dalam pelaksanaan kebijaksanaan dan pencapaian
tujuan.
2.
Menurut Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI)
Pengelolaan adalah suatu keahlian yang
diperlukan untuk memimpin, mengatur, menggerakkan waktu, ruang, manusia, dan
dana untuk mencapai tujuan tertentu
3.
Menurut Robert T. Kiyosaki
Pengelolaan adalah sebuaa kata yang besar sekali, yang mencakup
pengelolaan uang, waktu, orang, sumber daya, dan terutama pengelolaan informasi.
4.
Menurut Murniati A.R
Pengelolaan adalah proses mengkoordinasikan
dan mengintegrasikan semua sumber daya, baik manusia maupun teknikal, untuk
mencapai berbagai tujuan khusus yang ditetapkan dalam suatu organisasi
5.
Menurut Wollenberg
Pengelolaan merupakan suatu proses yang
digunakan untuk menyesuaikan strategi pengelolaan supaya mereka dapat mengatasi
perubahan dalam interaksi antar manusia.
Sistem
Pengelolaan Pengajaran
Berdasarkan berbagai pertimbangan dari berbagai sumber bacaan dari buku
maupun dari media internet, sistem pengelolaan pengajaran di sekolah adalah
sebagai berikut:
1. Menterjamahkan
Kurikulum Kedalam Kegiatan Belajar Mengajar.
Seorang guru memperoleh buku kurikulum, guru tersebut
membaca buku yang berisi landasan dan tujuan serta sistem pengelolaan kurikulum
di sekolah. Dalam hal ini, yang biasa dilakukan guru ialah membaca GBPP (Garis
Besar Program Pengajaran) bidang studi masing-masing dan struktur program dari
kurikulum tersebut. Tugas guru selanjutnya adalah menyusun program belajar
mengajar dalam satu tahun, semester dan setiap kali pertemuan. Jadi seorang
guru perlu punya persiapan yang mantap, tertulis dan persiapan batin.
2. Kalender
Sekolah
a. pengertian kalender sekolah
adalah ketentuan waktu belajar yang ditentukan oleh pimpinan penyelenggara
pendidikan. Kalender sekolah itu berisi jumlah hari sekolah efektif dalam satu
tahun ajaran.
b. fungsi kalender sekolah adalah
sebagai petunjuk waktu kegiatan belajar bagi setiap administrator sekolah.
Kalender sekolah ini penting bagi setiap pengelola sekolah sebagai persiapan
dalam merencanakan dan melakukan tugas sekolah.
3. Pengaturan
Jadwal
Ada dua macam jadwal yaitu:
a. Jadwal yang berdasarkan sistem
paket yaitu, jadwal yang tersusun atas dasar sejumlah bidang studi yang sudah
ditentukan.
b. Jadwal yang berdasarkan pilihan
siswa, yakni: setiap siswa memasukkan pelajaran mana yang akan diikuti. Atas
dasar kebutuhan tersebut pihak sekolah merancangkan jadwal pelajaran, para
siswa dapat memilih berapa jam pelajaran yang akan diikuti. Keuntungan cara ini
adalah anak-anak bebas memilih program yang diinginkan sedangkan kelemahannya
adalah mungkin akan terjadi tabrakan jadwal.
Setelah mengetahui
pengertian pengelolaan dari berbagai sumber, dapat disimpulkan bahwa pengertian
pengelolaan pengajaran dalam
uraian ini, pengelolaan
pengajaran hanya dibatasi pada bagaimana mengatur kurikulum disekolah. Artinya, bagaimana menerapkan isi kurikulum kedalam proses belajar
mengajar yang disajikan dalam satuan pengalaman belajar agar dapat diterima oleh siswa. Jadi yang dimaksud dengan pengelolaan pengajaran di sini adalah setiap usaha yang dilakukan oleh
pihak sekolah untuk mengatur dan mengelola seluruh kegiatan, baik yang bersifat teori akademis maupun
yang bersifat praktek.
Pengelolaan
Guru
Guru merupakan salah satu kunci
keberhasilan pendidikan. Karena itu seorang guru harus benar-benar profesional
dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Setiap tugas profesional mengandung
pengertian bahwa tugas tersebut harus dilakukan berdasarkan etika yang
disepakati di kalangan pelakunya, yang secara moral mengikat pemikiran, sikap,
dan perilaku profesional itu.
Pengembangan Sikap
Profesional
Pengembangan sikap profesional dapat dilakukan baik
selagi dalam pendidikan prajabatan maupun setelah bertugas (dalam jabatan).
1. Pengembangan Sikap Selama
Pendidikan Prajabatan
Dalam pendidikan prajabatan,
calon guru dididik dalam berbagai pengetahuan, sikap dan keterampilan yang
diperlukan dalam pekerjaannya nanti. Karena tugasnya yang unik, guru selalu
menjadi panutan siswanya, dan bahkan bagi masyarakat sekelilingnya. Karena itu,
bagaimana guru bersikap terhadap pekerjaan dan jabatannya selalu menjadi
perhatian siswa dan masyarakat.
Pembentukan sikap yang baik tidak
mungkin muncul begitu saja, tetapi harus dibina sejak calon guru memulai
pendidikannya di lembaga pendidikan guru. Berbagai usaha dan latihan,
contoh-contoh dan aplikasi penerapan ilmu, keterampilan dan bahkan sikap
profesional dirancang dan dilaksanakan selama calon guru berada dalam
pendidikan prajabatan. Sering juga pembentukan sikap tertentu terjadi sebagai
hasil sampingan (by product) dari pengetahuan yang diperoleh calon guru.
Pembentukan sikap juga dapat diberikan dengan memberikan pengetahuan,
pemahaman, dan penghayatan khusus yang direncanakan.
2. Pengembangan Sikap Selama dalam
Jabatan
Pengembangan sikap profesional
tidak berhenti apabila calon guru selesai mendapatkan pendidikan prajabatan.
Banyak usaha yang dapat dilakukan dalam rangka peningkatan sikap profesional
keguruan dalam masa pengabdiannya sebagai guru. Peningkatan ini dapat dilakukan
dengan cara formal melalui kegiatan mengikuti penataran, lokakarya, seminar,
atau kegiatan ilmiah lainnya, ataupun secara informal melalui media massa
televisi, radio, koran, dan majalah maupun publikasi lainnya. Kegiatan ini
selain dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, sekaligus dapat juga
meningkatkan sikap profesional guru.
Peran
Guru dalam Proses Belajar-Mengajar
Perkembangan
baru terhadap pandangan belajar mengajar membawa konsekuensi kepada guru untuk
meningkatkan peranan dan kompetensinya karena proses belajar-mengajar dan hasil belajar siswa sebagian besar sangat ditentukan oleh peranan dan kompetensi seorang guru. Guru yang kompeten akan lebih mampu
menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu mengelola
kelasnya sehingga hasil belajar yang dicapain oleh para siswa berada pada tingkat yang sangat optimal.
Peranan
dan kompetensi guru dalam proses belajar mengajar meliputi banyak hal. Berikut ini adalah peranan yang dianggap
paling dominan dan diklasifikasikan sebagai berikut:
A.
Guru
Sebagai Demonstrator
Peranannya sebagai demostrator, lecturer, atau
pengajar, guru hendaknya senantiasa menguasai bahan atau materi pelajaran yang
akan disampaikan serta senantiasa mengembangkannya dalam arti meningkatkan
kemampuannya dalam hal ilmu pengetahuan yang dimilikinya karena hal ini akan benar-benar menentukan hasil belajar yang akan dicapai
siswa selama bersama guru tersebut. Salah satu yang harus diperhatikan oleh guru
bahwa ia sendiri adalah pelajar. Ini
berarti bahwa guru harus belajar secara terus menerus. Dengan cara demikian ia
akan memperkaya dirinya dengan berbagai ilmu pengetahuan sebagai bekal dalam
melaksanakan tugasnya sebagai pengajar dan demonstrator sehingga apa yang
disampaikannya betul-betul dimiliki oleh anak didik.
B.
Guru
Sebagai Pengelola Kelas
Dalam peranannya sebagai pengelola kelas
(learning manager), guru hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkungan
belajar serta merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi.
Lingkungan diatur dan diawasi agar kegiatan-kegiatan belajar terarah kepada
tujuan-tujuan pendidikan.
Tujuan umum pengelolaan kelas adalah
menyediakan dan menggunakan fasilitas kelas untuk bermacam-macam kegiatan
belajar agar mencapai hasil yang baik. Sedangkan tujuan khususnya adalah
mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang
memungkinkan siswa bekerja dan belajar, serta membantu siswa untuk memperoleh
hasil yang diharapkan. Sebagai manager, guru bertanggung jawab untuk memelihara lingkungan fisik kelasnya agar
senantiasa menyenangkan untuk belajar dan mengarahkan atau membimbing
proses-proses intelektual dan sosial di dalam kelasnya. Dengan demikian guru
tidak hanya memungkinkan siswa belajar, tetapi juga mengembangkan kebiasaan
bekerja dan belajar secara efektif dan efisien serta menyenangkan yang diterapkan di kalangan
peserta didiknya.
Untuk lebih jelasnya fungsi pengelola kelas secara umum di atas, maka di bawah ini fungsi pengelolaan ditinjau dari beberapa problema sebagai berikut:
Untuk lebih jelasnya fungsi pengelola kelas secara umum di atas, maka di bawah ini fungsi pengelolaan ditinjau dari beberapa problema sebagai berikut:
a.
Memberikan
dan melengkapi fasilitas kelas untuk segala macam tugas antara lain:
§
Membantu
pembentukan kelompok
§
Membantu
kelompok dalam pembagian tugas
§
Membantu
kerja sama dalam menemukan tujuan-tujuan kelompok
§
Membantu
individu agar dapat bekerja sama dalam kelompok atau kelas
§
Membantu
prosedur kerja
§
Merubah
kondisi kelas
b.
Memelihara
tugas agar dapat berjalan lancar antara lain:
§
Mengenal
dan memahami kemampuan murid
§
Mempengaruhi
kehidupan individu, terutama dengan teman-teman sebaya dalam kelas
§
Organisasi
sekolah dapat membantu memelihara tugas- tugas
§
Mampu
menciptakan iklim belajar mengajar berdasarkan hubungan manusiawi yang harmonis
dan sehat.
Dari fungsi pengelolaan kelas tersebut, maka akan menjadi titik tolak atau
sentral dalam pengelolaan kelas tersebut tidak terlepas dari mengantarkan suatu
kondisi-kondisi yang memungkinkan untuk tercapainya belajar mengajar. Kenyataan
ini bermaksud bahwa komponen
yang berada dalam ruangan menjadi sasaran yang dioptimalkan, lebih-lebih lagi
yang berkaitan dengan diri siswa sebagai individu dan siswa dalam kedudukannya
terhadap kelompok.
Demikian
pula halnya organisasi pengelolaan kelas dalam proses pengajaran, bahwa di mana
ketergantungannya dari tujuan pengelolaan kelas menjadi tata laksana yang
berperan aktif untuk menentukan dan menciptakan kondisi fisiologi dan psikologi
untuk memfokuskan pada belajar. Suasana perasaan, pikiran dan ingatan untuk tertuju kepada
materi yang diberikan.
C.
Guru
Sebagai Mediator dan Fasilitator
Sebagai mediator guru hendaknya memiliki
pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan karena media
pendidikan adalah alat komunikasi untuk lebih mengefektifkan proses
belajar-mengajar. Guru tidak cukup hanya memiliki pengetahuan tentang media
pendidikan, tetapi juga harus memiliki keterampilan memilih dan menggunakan
serta mengusahakan media itu dengan baik. Memilih dan menggunakan media
pendidikan harus sesuai dengan tujuan, materi, metode, evaluasi, dan kemampuan
guru serta minat dan kemampuan siswa.
Sebagai fasilitator guru hendaknya mampu
mengusahakan sumber belajar yang berguna serta dapat menunjang pencapaian
tujuan dan proses belajar-mengajar, baik yang berupa nara sumber, buku teks,
majalah ataupun surat kabar. Agar guru dapat mengoptimalkan perannya sebagai
fasilitator, maka guru perlu memahami hal-hal yang berhubungan dengan
pemanfaatan berbagai media dan sumber belajar. Dari ungkapan ini, jelas bahwa
untuk mewujudkan dirinya sebagai fasilitator, guru mutlak perlu menyediakan
sumber dan media belajar yang cocok dan beragam dalam setiap kegiatan
pembelajaran, dan tidak menjadikan dirinya sebagai satu-satunya sumber belajar
bagi para siswanya.
D.
Guru
Sebagai Evaluator
Setiap jenis pendidikan pada waktu-waktu
tertentu selama satu periode pendidikan selalu mengadakan evaluasi, artinya
pada waktu-waktu tertentu selama satu periode pendidikan, selalu mengadakan
penilaian terhadap hasil yang dicapai, baik oleh pihak terdidik maupun oleh
pihak pendidik.
Demikian pula dalam satu kali proses belajar mengajar guru hendaknya menjadi seorang evaluator yang baik. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan telah tercapai atau belum, dan apakah materi yang diajarkan telah cukup tepat. Semua pertanyaan tersebut akan terjawab melalui kegiatan evaluasi atau penilaian. Tujuan lain dari penilaian di antaranya ialah untuk mengetahui kedudukan siswa di dalam kelas atau kelompoknya. Dengan penilaian guru dapat mengklasifikasikan apakah seorang siswa termasuk kelompok yang pandai, sedang, kurang, atau cukup baik di kelasnya jika dibandingkan dengan teman-temannya
Demikian pula dalam satu kali proses belajar mengajar guru hendaknya menjadi seorang evaluator yang baik. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan telah tercapai atau belum, dan apakah materi yang diajarkan telah cukup tepat. Semua pertanyaan tersebut akan terjawab melalui kegiatan evaluasi atau penilaian. Tujuan lain dari penilaian di antaranya ialah untuk mengetahui kedudukan siswa di dalam kelas atau kelompoknya. Dengan penilaian guru dapat mengklasifikasikan apakah seorang siswa termasuk kelompok yang pandai, sedang, kurang, atau cukup baik di kelasnya jika dibandingkan dengan teman-temannya
Kode Etik Guru Indonesia
Guru Indonesia menyadari, bahwa
pendidikan adalah bidang pengabdian terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
bangsa dan negara serta kemanusiaan pada umumnya. Guru Indonesia yang berjiwa
Pancasila dan setia pada Undang-undang Dasar 1945, turut bertanggungjawab
atas terwujudnya cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus
1945. Oleh sebab itu, Guru Indonesia terpanggil untuk menunaikan karyanya
dengan mendominasi dasar-dasar sebagai berikut:
- Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia
Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila
- Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran profesi
- Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan
melakukan bimbingan dan pembinaan
- Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang
berhasilnya proses belajar mengajar
- Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat
sekitarnya untuk membina peran serta dan rasa tanggungjawab bersama
terhadap pendidikan
- Guru secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan
mutu dan martabat profesinya
- Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan, dan
kesetiakawanan sosial
- Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi
PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian
- Guru melaksanakan segala kebijaksanaan pemerintah dalam bidang
pendidikan.
Pengelolaan Siswa
Pengertian
Dalam hal ini pengelolaan siswa
adalah merupakan suatu penataan atau pengaturan segala aktivitas yang berkaitan
dengan peserta didik, yaitu dari mulai masuknya peserta didik sampai dengan
keluarnya peserta didik tersebut dari suatu sekolah atau suatu lembaga.
Dengan demikian pengelolaan
peserta didik itu bukanlah dalam bentuk pencatatan/pengelolaan data peserta
didik saja, melainkan meliputi aspek yang lebih luas, yang secara operasional
dapat dipergunakan untuk membantu kelancaran upaya pertumbuhan dan perkembangan
peserta didik melalui proses pendidikan di sekolah.
Dari pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa pengelolaan siswa adalah sebuah pengaturan di kelas oleh guru tertentu yang sedang melakukan proses belajar
mengajar sehingga setiap siswa dapat
pelayanan sesuai dengan kebutuhannya.
Di dalam penciptaan suasana atau lingkungan belajar tempat di mana siswa atau peserta didik mendapat
proses belajar, guru juga harus
mengusahakan agar setiap siswa mendapat pelayanan secara maksimal menurut
kebutuhan.
Pengelolaan siswa meliputi :
1.
Penerimaan siswa baru
2.
Program bimbingan dan penyuluhan
3.
Pengelompokan belajar siswa
4.
Kehadiran siswa
5.
Mutasi siswa
6.
Papan statistik siswa
7.
Buku induk siswa
8.
Evaluasi belajar
9.
Buku laporan prestasi
10. Ijazah
Pengelolaan Kelas
Pengertian Pengelolaan Kelas
1. Menurut Suharsimi Arikunto pengelolaan kelas
suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar
dengan maksud agar dicapai kondisi yang optimal sehingga dapat terlaksana
kegiatan belajar mengajar seperti yang diharapkan.
2. Menurut Cece Wijaya dan Tabrani Rusyan
Pengelolaan kelas adalah usaha yang dilakukan guru untuk menata kehidupan kelas
dimulai dari perencanaan kurikulumnya, penataan prosedur dan sumber belajarnya,
pengaturan lingkungannya untuk memaksimalkan efisiensi, memantau kemajuan
siswa, dan mengantisipasi masalah-masalah yang mungkin timbul
3. Menurut Muljani A. Nurhadi Pengelolaan kelas
merupakan upaya mengelola siswa di kelas yang dilakukan untuk menciptakan dan
mempertahankan suasana (kondisi) kelas yang menunjang program pengajaran dengan
jalan menciptakan dan mempertahankan motivasi siswa untuk selalu terlibat dan
berperan serta dalam proses pendidikan di sekolah
Dari
semua uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengelolaan kelas adalah upaya
yang dilakukan guru dalam mengelola anak didiknya di kelas dengan menciptakan
atau mempertahankan suasana atau kondisi kelas yang mendukung program
pengajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pengelolaan kelas yang efektif
adalah salah satu keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi
belajar yang optimal dan ketrampilan untuk mengembalikan kondisi belajar yang
optimal dengan cara yang efektif.
Tujuan Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas mempunyai dua
tujuan yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
1.
Tujuan umum
pengelolaan kelas adalah menyediakan dan menggunakan fasilitas belajar untuk
bermacam-macam kegiatan belajar mengajaragar mencapai hasil yang baik.
2.
Tujuan
khususnya adalah mengembangkan kemampuan peserta didik dalam menggunakan alat-alat
belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan peserta didik bekerja
dan belajar, serta membantu peserta didik untuk memperoleh hasil yang
diharapkan. ]
Empat Kunci Pengaturan Ruang Kelas yang Baik
Ruang kelas bukanlah sebuah
wilayah yang amat luas yang berinteraksi dalam waktu lama. Terlebih lagi, guru
dan siswa akan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan dalam ruangan tersebut.
Apabila seorang guru dapat mengatur ruang, penggunaan kelas akan membuat
lancarnya pergerakan menjadi efisien. Oleh sebab itu, empat kunci berikut ini
sebagai panduan untuk mengatur ruang kelas:
1.
Jadikan wilayah
lalu lalang bebas hambatan
Wilayah dimana banyak para siswa lalu lalang biasanya dapat menjadikan
waktu pengajaran menjadi berubah karena banyak siswa yang harus menghindari
beberapa hambatan-hambatan. Untuk mengatasi kasus tersebut sebaiknya guru
mengatur jarak bangku setiap siswa satu dengan yang lain sama lebar, kemudian
melarang tas/ ransel siswa terletak di sisi luar meja karena itu dapat
menganggu siswa yang ingin maju untuk presentasi atau menjawab soal.
2. Pastikan semua murid terpantau
dengan mudah oleh guru
Masing-masing kelas memiliki
siswa yang beraneka macam entah dari postur tubuh, perilaku siswa dan
sebagainya. Dalam keadaan normal, guru banyak yang acuh terhadap poin ini.
Mungkin karena guru telah banyak pikiran dan menjadi malas untuk memikirkan
hal-hal kecil. Sayangnya justru hal yang kecil itulah dapat menyebabkan kondisi
pengajaran makin tidak kondusif. Contoh konkret hal kecil yang dapat berdampak
besar adalah siswa senang duduk berkelompok di pojok belakang kelas biasanya
akan bercakap sendiri tanpa memperhatikan guru karena banyak alasan misalnya
pelajaran tidak menarik, cara pengajaran membosankan atau bahkan mereka tidak
paham akan mata pelajaran tersebut, kondisi ini diperparah dengan adanya siswa
tinggi duduk didepan sendiri sehingga menutupi teman yang membuat gaduh.
Masalah ini dapat kita pecahkan
dengan cara menata kembali posisi duduk siswa dengan cara: (1) Siswa pintar
yang tinggi normal/kurang tinggi duduk di depan dengan duduk siswa yang kurang
pintar/nakal yang berpostur sama tapi usahakan untuk dipencar jangan berdekatan
dengan anak nakal lain. (2) Apabila terdapat murid dengan postur tinggi taruhlah
di bagian belakang sendiri dan tetap untuk tidak di kelompokan dengan anak
nakal lain. (3) Apabila ada siswa yang memiliki kebutuhan khusus (Rabun
dekat/Jauh/Silinder) letakan mereka diposisi yang mereka dapat membaca dengan
jelas.
3. Jaga material/perlengkapan yang
sering digunakan
Menjaga material yang mudah diakses tidak hanya mengurangi waktu yang hanya
untuk menyiapkan perlengkapan saja tapi juga dapat membantu menghindari penundaan
pengajaran. Alasan seperti ini logis karena apabila guru atau siswa yang
menyiapkan peralatan yang sebenarnya telah memasuki jam pengajaran maka siswa
lain akan teralihkan perhatiannya dengan peristiwa tersebut dan juga jam
pengajaran guru tersebut akan berkurang banyak.
4.
Pastikan siswa
dapat dengan mudah melihat presentasi ataupun media pengajaran
Ketika Anda dan siswa sedang
presentasi/ diskusi kelas, pastikan bahwa pastikan bahwa tempat duduk siswa
dapat melihat LCD atau media lain tanpa harus memindahkan banyak bangku,
kondisi seperti itu membuat para siswa memperhatikan.
Display untuk di dinding ruangan kelas:
§ Peta Indonesia/dunia
§ Kalender
§ Arti sila-sila
§ Materi mata pelajaran/kuliah
§ Foto tokoh besar bangsa
Pengelolaan Sumber Ajar
Pengertian Sumber Ajar
1.
Menurut
Association Educational
Comunication and Tehnology (AECT) sumber
belajar yaitu berbagai atau semua sumber baik berupa data, orang dan wujud
tertentu yang dapat digunakan siswa dalam belajar, baik secara terpisah maupun
terkombinasi sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajar.
2.
Menurut Sudjana, sumber belajar bisa diartikan secara sempit dan secara luas. Pengertian secara sempit
diarahakan pada bahan-bahan cetak. Sedangkan secara luas tidak lain adalah daya
yang bisa dimanfaatkan guna kepentingan proses belajar mengajar, baik secara
langsung maupun tidak langsung.
Jadi
sumber ajar/belajar
adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan atau digunakan seseorang untuk
memfasilitasi segala kegiatan belajar, baik itu secara terpisah maupun secara
terkombinasi agar dapat mempermudah seseorang dalam mencapai tujuan belajar
yang diinginkan.
Secara umum sumber belajar dapat dikategorikan kedalam 6
(enam) jenis, yaitu:
1. Pesan
Informasi yang akan disampaikan oleh komponen lain; dapat berbentuk ide,
fakta, makna dan data.
2. Orang
Orang yang bertindak sebagai penyimpan dan menyalurkan pesan antara lain:
guru, instruktur, siswa, ahli, nara sumber, tokoh masyarakat, pimpinan lembaga,
tokoh karier dan sebagainya.
3. Bahan
Barang-barang yang berisikan pesan untuk disampaikan dengan menggunakan
peralatan; kadang-kadang bahan itu sendiri sudah merupakan bentuk penyajian
contohnya: buku, transparansi, film, slides, gambar, grafik yang dirancang
untuk pembelajaran, relief, candi, arca, komik, dan sebagainya.
4. Alat/ perlengkapan
Barang-barang yang digunakan untuk menyampaikan pesan yang terdapat pada
bahan misalnya: perangkat keras, komputer, radio, televisi, VCD/DVD, kamera,
papan tulis, generator, mesin, mobil, motor, alat listrik, obeng dan
sebagainya.
5. Pendekatan/ metode/ teknik
Prosedur atau langkah-langkah tertentu dalam menggunakan bahan, alat, tata
tempat, dan orang untuk menyampaikan pesan; misalnya: diskusi, seminar,
pemecahan masalah, simulasi, permainan, sarasehan, percakapan biasa, diskusi,
debat, talk shaw dan sejenisnya.
6. Lingkungan/latar
Lingkungan dimana pesan diterima oleh pelajar; misalnya: ruang kelas,
studio, perpustakaan, aula, teman, kebun, pasar, toko, museum, kantor dan
sebagainya.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Setelah mengetahui pengertian pengelolaan, pengertian
pengelolaan guru, siswa dan bahan ajar dari berbagai sumber, dapat disimpulkan
bahwa pengertian pengelolaan pengajaran dalam uraian ini hanya dibatasi pada bagaimana mengatur
kurikulum disekolah. Artinya, bagaimana menerapkan isi kurikulum ke dalam proses belajar mengajar yang disajikan
dalam satuan pengalaman belajar agar dapat diterima oleh siswa. Jadi yang dimaksud dengan pengelolaan
pengajaran di sini adalah setiap usaha yang dilakukan oleh
pihak sekolah
untuk mengatur dan mengelola seluruh kegiatan, baik yang bersifat teori akademis maupun
yang bersifat praktek.
Demikian pula halnya organisasi pengelolaan
kelas dalam proses pengajaran, bahwa di mana ketergantungannya dari tujuan
pengelolaan kelas menjadi tata laksana yang berperan aktif untuk menentukan dan
menciptakan kondisi fisiologi dan psikologi untuk memfokuskan pada belajar.
Suasana perasaan, pikiran dan ingatan untuk tertuju kepada materi yang
diberikan. Dapat disimpulkan juga bahwa pengelolaan kelas yang efektif adalah salah satu keterampilan guru untuk
menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan ketrampilan untuk
mengembalikan kondisi belajar yang optimal dengan cara yang efektif. Maka dari
itu, kelas yang efektif tersebut perlu diwujudkan secepatnya.
B. Saran
Kematangan
pendidik, kesiapan bahan ajar dan ruangan adalah hal yang sangat vital dalam
berlangsungnya proses belajar-mengajar yang baik dan benar demi memenuhi
kebutuhan para peserta didik. Dalam hal ini, penulis menyarankan agar
pemerintah lebih banyak lagi mengalokasikan dananya untuk kepentingan
pendidikan. Pengawasan dan evaluasi pun perlu agar dana tersebut teralokasikan
dengan baik, efisien dan efektif. Orang tua pun perlu ikut serta dalam
mengembangkan pengelolaan pengajaran dengan memberikan ide-ide dan gagasan
mereka.
Daftar
Pustaka
Alldham. 2011. “Sumber Belajar Menurut Para Ahli Beserta
6 Jenis Sumber
2014
Diunduh
10 April 2014
Ginanjar, Budi. 2011. “Apakah Pengertian dari Pengelolaan
Pengajaran di
Wijaya,
Cece. 1995. Pendidikan Remedial.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.