Bagaimana pun baiknya kita berlaku baik, memang akan ada orang yang merasa bahwa kita tidak cukup baik baginya

Senin, 21 April 2014

PENGELOLAAN PENGAJARAN

BAB II

PEMBAHASAN

Pengertian Pengelolaan
Tidak sedikit orang yang mengartikan pengelolaan sama dengan arti manajemen. Karena antara manajemen dan pengelolaan memiliki tujuan yang sama yaitu tercapainya tujuan organisasi lembaga. Pengelolaan merupakan sebuah bentuk bekerja dengan orang-orang secara pribadi dan kelompok demi tercapainya tujuan organisasi lembaga. satu yang perlu diingat bahwa pengelolaan berbeda dengan kepemimpinan. Bila pengelolaan terjadi bila terdapat kerjasama dengan orang pribadi maupun kelompok, maka seorang pemimpin bisa mencapai tujuan yang diharapkan tanpa perlu menjadi seorang manajer yang efektif.
Berikut adalah pengertian pengelolaan:
1.      Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
Proses, cara, perbuatan mengelola; Proses melakukan kegiatan tertentu dengan menggerakkan tenaga orang lain; Proses yang membantu merumuskan kebijaksanaan dan tujuan organisasi; Proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan kebijaksanaan dan pencapaian tujuan.

2.      Menurut Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI)
Pengelolaan adalah suatu keahlian yang diperlukan untuk memimpin, mengatur, menggerakkan waktu, ruang, manusia, dan dana untuk mencapai tujuan tertentu

3.      Menurut Robert T. Kiyosaki
Pengelolaan adalah sebuaa kata yang besar sekali, yang mencakup pengelolaan uang, waktu, orang, sumber daya, dan terutama pengelolaan informasi.
4.      Menurut Murniati A.R
Pengelolaan adalah proses mengkoordinasikan dan mengintegrasikan semua sumber daya, baik manusia maupun teknikal, untuk mencapai berbagai tujuan khusus yang ditetapkan dalam suatu organisasi

5.      Menurut Wollenberg
Pengelolaan merupakan suatu proses yang digunakan untuk menyesuaikan strategi pengelolaan supaya mereka dapat mengatasi perubahan dalam interaksi antar manusia.

Sistem Pengelolaan Pengajaran
Berdasarkan berbagai pertimbangan dari berbagai sumber bacaan dari buku maupun dari media internet, sistem pengelolaan pengajaran di sekolah adalah sebagai berikut:
1.      Menterjamahkan Kurikulum Kedalam Kegiatan Belajar Mengajar.
Seorang guru memperoleh buku kurikulum, guru tersebut membaca buku yang berisi landasan dan tujuan serta sistem pengelolaan kurikulum di sekolah. Dalam hal ini, yang biasa dilakukan guru ialah membaca GBPP (Garis Besar Program Pengajaran) bidang studi masing-masing dan struktur program dari kurikulum tersebut. Tugas guru selanjutnya adalah menyusun program belajar mengajar dalam satu tahun, semester dan setiap kali pertemuan. Jadi seorang guru perlu punya persiapan yang mantap, tertulis dan persiapan batin.

2.      Kalender Sekolah
a.       pengertian kalender sekolah adalah ketentuan waktu belajar yang ditentukan oleh pimpinan penyelenggara pendidikan. Kalender sekolah itu berisi jumlah hari sekolah efektif dalam satu tahun ajaran.
b.      fungsi kalender sekolah adalah sebagai petunjuk waktu kegiatan belajar bagi setiap administrator sekolah. Kalender sekolah ini penting bagi setiap pengelola sekolah sebagai persiapan dalam merencanakan dan melakukan tugas sekolah.

3.      Pengaturan Jadwal
Ada dua macam jadwal yaitu:
a.       Jadwal yang berdasarkan sistem paket yaitu, jadwal yang tersusun atas dasar sejumlah bidang studi yang sudah ditentukan.
b.      Jadwal yang berdasarkan pilihan siswa, yakni: setiap siswa memasukkan pelajaran mana yang akan diikuti. Atas dasar kebutuhan tersebut pihak sekolah merancangkan jadwal pelajaran, para siswa dapat memilih berapa jam pelajaran yang akan diikuti. Keuntungan cara ini adalah anak-anak bebas memilih program yang diinginkan sedangkan kelemahannya adalah mungkin akan terjadi tabrakan jadwal.

Setelah mengetahui pengertian pengelolaan dari berbagai sumber, dapat disimpulkan bahwa pengertian pengelolaan pengajaran dalam uraian ini, pengelolaan pengajaran hanya dibatasi pada bagaimana mengatur kurikulum disekolah. Artinya, bagaimana menerapkan isi kurikulum kedalam proses belajar mengajar yang disajikan dalam satuan pengalaman belajar agar dapat diterima oleh siswa. Jadi yang dimaksud dengan pengelolaan pengajaran di sini adalah setiap usaha yang dilakukan oleh pihak sekolah untuk mengatur dan mengelola seluruh kegiatan, baik yang bersifat teori akademis maupun yang bersifat praktek.

Pengelolaan Guru
Guru merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Karena itu seorang guru harus benar-benar profesional dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Setiap tugas profesional mengandung pengertian bahwa tugas tersebut harus dilakukan berdasarkan etika yang disepakati di kalangan pelakunya, yang secara moral mengikat pemikiran, sikap, dan perilaku profesional itu.
Pengembangan Sikap Profesional
Pengembangan sikap profesional dapat dilakukan baik selagi dalam pendidikan prajabatan maupun setelah bertugas (dalam jabatan).
1.      Pengembangan Sikap Selama Pendidikan Prajabatan
Dalam pendidikan prajabatan, calon guru dididik dalam berbagai pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaannya nanti. Karena tugasnya yang unik, guru selalu menjadi panutan siswanya, dan bahkan bagi masyarakat sekelilingnya. Karena itu, bagaimana guru bersikap terhadap pekerjaan dan jabatannya selalu menjadi perhatian siswa dan masyarakat.
Pembentukan sikap yang baik tidak mungkin muncul begitu saja, tetapi harus dibina sejak calon guru memulai pendidikannya di lembaga pendidikan guru. Berbagai usaha dan latihan, contoh-contoh dan aplikasi penerapan ilmu, keterampilan dan bahkan sikap profesional dirancang dan dilaksanakan selama calon guru berada dalam pendidikan prajabatan. Sering juga pembentukan sikap tertentu terjadi sebagai hasil sampingan (by product) dari pengetahuan yang diperoleh calon guru.  Pembentukan sikap juga dapat diberikan dengan memberikan pengetahuan, pemahaman, dan penghayatan khusus yang direncanakan.

2.      Pengembangan Sikap Selama dalam Jabatan
Pengembangan sikap profesional tidak berhenti apabila calon guru selesai mendapatkan pendidikan prajabatan. Banyak usaha yang dapat dilakukan dalam rangka peningkatan sikap profesional keguruan dalam masa pengabdiannya sebagai guru. Peningkatan ini dapat dilakukan dengan cara formal melalui kegiatan mengikuti penataran, lokakarya, seminar, atau kegiatan ilmiah lainnya, ataupun secara informal melalui media massa televisi, radio, koran, dan majalah maupun publikasi lainnya. Kegiatan ini selain dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, sekaligus dapat juga meningkatkan sikap profesional guru.
Peran Guru dalam Proses Belajar-Mengajar
Perkembangan baru terhadap pandangan belajar mengajar membawa konsekuensi kepada guru untuk meningkatkan peranan dan kompetensinya karena proses belajar-mengajar dan hasil belajar siswa sebagian besar sangat ditentukan oleh peranan dan kompetensi seorang guru. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu mengelola kelasnya sehingga hasil belajar yang dicapain oleh para siswa berada pada tingkat yang sangat optimal.
Peranan dan kompetensi guru dalam proses belajar mengajar meliputi banyak hal. Berikut ini adalah peranan yang dianggap paling dominan dan diklasifikasikan sebagai berikut:
A.    Guru Sebagai Demonstrator
Peranannya sebagai demostrator, lecturer, atau pengajar, guru hendaknya senantiasa menguasai bahan atau materi pelajaran yang akan disampaikan serta senantiasa mengembangkannya dalam arti meningkatkan kemampuannya dalam hal ilmu pengetahuan yang dimilikinya karena hal ini akan benar-benar menentukan hasil belajar yang akan dicapai siswa selama bersama guru tersebut. Salah satu yang harus diperhatikan oleh guru bahwa ia sendiri adalah pelajar. Ini berarti bahwa guru harus belajar secara terus menerus. Dengan cara demikian ia akan memperkaya dirinya dengan berbagai ilmu pengetahuan sebagai bekal dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengajar dan demonstrator sehingga apa yang disampaikannya betul-betul dimiliki oleh anak didik.
B.     Guru Sebagai Pengelola Kelas
Dalam peranannya sebagai pengelola kelas (learning manager), guru hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi. Lingkungan diatur dan diawasi agar kegiatan-kegiatan belajar terarah kepada tujuan-tujuan pendidikan.
Tujuan umum pengelolaan kelas adalah menyediakan dan menggunakan fasilitas kelas untuk bermacam-macam kegiatan belajar agar mencapai hasil yang baik. Sedangkan tujuan khususnya adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa bekerja dan belajar, serta membantu siswa untuk memperoleh hasil yang diharapkan. Sebagai manager, guru bertanggung jawab untuk memelihara lingkungan fisik kelasnya agar senantiasa menyenangkan untuk belajar dan mengarahkan atau membimbing proses-proses intelektual dan sosial di dalam kelasnya. Dengan demikian guru tidak hanya memungkinkan siswa belajar, tetapi juga mengembangkan kebiasaan bekerja dan belajar secara efektif dan efisien serta menyenangkan yang diterapkan di kalangan peserta didiknya.
Untuk lebih jelasnya fungsi pengelola kelas secara umum di atas, maka di bawah ini fungsi pengelolaan ditinjau dari beberapa problema sebagai berikut
:
a.       Memberikan dan melengkapi fasilitas kelas untuk segala macam tugas antara lain:
§  Membantu pembentukan kelompok
§  Membantu kelompok dalam pembagian tugas
§  Membantu kerja sama dalam menemukan tujuan-tujuan kelompok
§  Membantu individu agar dapat bekerja sama dalam kelompok atau kelas
§  Membantu prosedur kerja
§  Merubah kondisi kelas

b.      Memelihara tugas agar dapat berjalan lancar antara lain:
§  Mengenal dan memahami kemampuan murid
§  Mempengaruhi kehidupan individu, terutama dengan teman-teman sebaya dalam kelas
§  Organisasi sekolah dapat membantu memelihara tugas- tugas
§  Mampu menciptakan iklim belajar mengajar berdasarkan hubungan manusiawi yang harmonis dan sehat.
Dari fungsi pengelolaan kelas tersebut, maka akan menjadi titik tolak atau sentral dalam pengelolaan kelas tersebut tidak terlepas dari mengantarkan suatu kondisi-kondisi yang memungkinkan untuk tercapainya belajar mengajar. Kenyataan ini bermaksud bahwa komponen yang berada dalam ruangan menjadi sasaran yang dioptimalkan, lebih-lebih lagi yang berkaitan dengan diri siswa sebagai individu dan siswa dalam kedudukannya terhadap kelompok.
Demikian pula halnya organisasi pengelolaan kelas dalam proses pengajaran, bahwa di mana ketergantungannya dari tujuan pengelolaan kelas menjadi tata laksana yang berperan aktif untuk menentukan dan menciptakan kondisi fisiologi dan psikologi untuk memfokuskan pada belajar. Suasana perasaan, pikiran dan ingatan untuk tertuju kepada materi yang diberikan.
C.     Guru Sebagai Mediator dan Fasilitator
Sebagai mediator guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan karena media pendidikan adalah alat komunikasi untuk lebih mengefektifkan proses belajar-mengajar. Guru tidak cukup hanya memiliki pengetahuan tentang media pendidikan, tetapi juga harus memiliki keterampilan memilih dan menggunakan serta mengusahakan media itu dengan baik. Memilih dan menggunakan media pendidikan harus sesuai dengan tujuan, materi, metode, evaluasi, dan kemampuan guru serta minat dan kemampuan siswa.
Sebagai fasilitator guru hendaknya mampu mengusahakan sumber belajar yang berguna serta dapat menunjang pencapaian tujuan dan proses belajar-mengajar, baik yang berupa nara sumber, buku teks, majalah ataupun surat kabar. Agar guru dapat mengoptimalkan perannya sebagai fasilitator, maka guru perlu memahami hal-hal yang berhubungan dengan pemanfaatan berbagai media dan sumber belajar. Dari ungkapan ini, jelas bahwa untuk mewujudkan dirinya sebagai fasilitator, guru mutlak perlu menyediakan sumber dan media belajar yang cocok dan beragam dalam setiap kegiatan pembelajaran, dan tidak menjadikan dirinya sebagai satu-satunya sumber belajar bagi para siswanya.

D.    Guru Sebagai Evaluator
Setiap jenis pendidikan pada waktu-waktu tertentu selama satu periode pendidikan selalu mengadakan evaluasi, artinya pada waktu-waktu tertentu selama satu periode pendidikan, selalu mengadakan penilaian terhadap hasil yang dicapai, baik oleh pihak terdidik maupun oleh pihak pendidik.
Demikian pula dalam satu kali proses belajar mengajar guru hendaknya menjadi seorang evaluator yang baik. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan telah tercapai atau belum, dan apakah materi yang diajarkan telah cukup tepat. Semua pertanyaan tersebut akan terjawab melalui kegiatan evaluasi atau penilaian. Tujuan lain dari penilaian di antaranya ialah untuk mengetahui kedudukan siswa di dalam kelas atau kelompoknya. Dengan penilaian guru dapat mengklasifikasikan apakah seorang siswa termasuk kelompok yang pandai, sedang, kurang, atau cukup baik di kelasnya jika dibandingkan dengan teman-temannya
Kode Etik Guru Indonesia
Guru Indonesia menyadari, bahwa pendidikan adalah bidang pengabdian terhadap  Tuhan Yang  Maha Esa, bangsa dan negara serta kemanusiaan pada umumnya. Guru Indonesia yang berjiwa Pancasila dan setia pada Undang-undang Dasar 1945,  turut bertanggungjawab atas terwujudnya cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. Oleh sebab itu, Guru  Indonesia terpanggil untuk menunaikan karyanya dengan mendominasi dasar-dasar sebagai berikut:
  1. Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila
  2. Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran profesi
  3. Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan
  4. Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang  berhasilnya proses belajar mengajar
  5. Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat sekitarnya untuk membina peran serta dan rasa tanggungjawab bersama terhadap pendidikan
  6. Guru secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya
  7. Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial
  8. Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian
  9. Guru melaksanakan segala kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan.
Pengelolaan Siswa
Pengertian
Dalam hal ini pengelolaan siswa adalah merupakan suatu penataan atau pengaturan segala aktivitas yang berkaitan dengan peserta didik, yaitu dari mulai masuknya peserta didik sampai dengan keluarnya peserta didik tersebut dari suatu sekolah atau suatu lembaga.
Dengan demikian pengelolaan peserta didik itu bukanlah dalam bentuk pencatatan/pengelolaan data peserta didik saja, melainkan meliputi aspek yang lebih luas, yang secara operasional dapat dipergunakan untuk membantu kelancaran upaya pertumbuhan dan perkembangan peserta didik melalui proses pendidikan di sekolah.
Dari pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa pengelolaan siswa adalah sebuah pengaturan di kelas oleh guru tertentu yang sedang melakukan proses belajar mengajar sehingga setiap siswa dapat pelayanan sesuai dengan kebutuhannya. Di dalam penciptaan suasana atau lingkungan belajar tempat di mana siswa atau peserta didik mendapat proses belajar, guru juga harus mengusahakan agar setiap siswa mendapat pelayanan secara maksimal menurut kebutuhan.
Pengelolaan siswa meliputi :
1.      Penerimaan siswa baru
2.      Program bimbingan dan penyuluhan
3.      Pengelompokan belajar siswa
4.      Kehadiran siswa
5.      Mutasi siswa
6.      Papan statistik siswa
7.      Buku induk siswa
8.      Evaluasi belajar
9.      Buku laporan prestasi
10.  Ijazah
Pengelolaan Kelas
Pengertian Pengelolaan Kelas
1.      Menurut Suharsimi Arikunto pengelolaan kelas suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar dicapai kondisi yang optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar mengajar seperti yang diharapkan.
2.      Menurut Cece Wijaya dan Tabrani Rusyan Pengelolaan kelas adalah usaha yang dilakukan guru untuk menata kehidupan kelas dimulai dari perencanaan kurikulumnya, penataan prosedur dan sumber belajarnya, pengaturan lingkungannya untuk memaksimalkan efisiensi, memantau kemajuan siswa, dan mengantisipasi masalah-masalah yang mungkin timbul
3.      Menurut Muljani A. Nurhadi Pengelolaan kelas merupakan upaya mengelola siswa di kelas yang dilakukan untuk menciptakan dan mempertahankan suasana (kondisi) kelas yang menunjang program pengajaran dengan jalan menciptakan dan mempertahankan motivasi siswa untuk selalu terlibat dan berperan serta dalam proses pendidikan di sekolah
Dari semua uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengelolaan kelas adalah upaya yang dilakukan guru dalam mengelola anak didiknya di kelas dengan menciptakan atau mempertahankan suasana atau kondisi kelas yang mendukung program pengajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pengelolaan kelas yang efektif adalah salah satu keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan ketrampilan untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal dengan cara yang efektif.
Tujuan Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas mempunyai dua tujuan yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
1.      Tujuan umum pengelolaan kelas adalah menyediakan dan menggunakan fasilitas belajar untuk bermacam-macam kegiatan belajar mengajaragar mencapai hasil yang baik.
2.      Tujuan khususnya adalah mengembangkan kemampuan peserta didik dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan peserta didik bekerja dan belajar, serta membantu peserta didik untuk memperoleh hasil yang diharapkan. ]

Empat Kunci Pengaturan Ruang Kelas yang Baik
Ruang kelas bukanlah sebuah wilayah yang amat luas yang berinteraksi dalam waktu lama. Terlebih lagi, guru dan siswa akan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan dalam ruangan tersebut. Apabila seorang guru dapat mengatur ruang, penggunaan kelas akan membuat lancarnya pergerakan menjadi efisien. Oleh sebab itu, empat kunci berikut ini sebagai panduan untuk mengatur ruang kelas:
1.      Jadikan wilayah lalu lalang bebas hambatan
Wilayah dimana banyak para siswa lalu lalang biasanya dapat menjadikan waktu pengajaran menjadi berubah karena banyak siswa yang harus menghindari beberapa hambatan-hambatan. Untuk mengatasi kasus tersebut sebaiknya guru mengatur jarak bangku setiap siswa satu dengan yang lain sama lebar, kemudian melarang tas/ ransel siswa terletak di sisi luar meja karena itu dapat menganggu siswa yang ingin maju untuk presentasi atau menjawab soal.
2.      Pastikan semua murid terpantau dengan mudah oleh guru
Masing-masing kelas memiliki siswa yang beraneka macam entah dari postur tubuh, perilaku siswa dan sebagainya. Dalam keadaan normal, guru banyak yang acuh terhadap poin ini. Mungkin karena guru telah banyak pikiran dan menjadi malas untuk memikirkan hal-hal kecil. Sayangnya justru hal yang kecil itulah dapat menyebabkan kondisi pengajaran makin tidak kondusif. Contoh konkret hal kecil yang dapat berdampak besar adalah siswa senang duduk berkelompok di pojok belakang kelas biasanya akan bercakap sendiri tanpa memperhatikan guru karena banyak alasan misalnya pelajaran tidak menarik, cara pengajaran membosankan atau bahkan mereka tidak paham akan mata pelajaran tersebut, kondisi ini diperparah dengan adanya siswa tinggi duduk didepan sendiri sehingga menutupi teman yang membuat gaduh.
Masalah ini dapat kita pecahkan dengan cara menata kembali posisi duduk siswa dengan cara: (1) Siswa pintar yang tinggi normal/kurang tinggi duduk di depan dengan duduk siswa yang kurang pintar/nakal yang berpostur sama tapi usahakan untuk dipencar jangan berdekatan dengan anak nakal lain. (2) Apabila terdapat murid dengan postur tinggi taruhlah di bagian belakang sendiri dan tetap untuk tidak di kelompokan dengan anak nakal lain. (3) Apabila ada siswa yang memiliki kebutuhan khusus (Rabun dekat/Jauh/Silinder) letakan mereka diposisi yang mereka dapat membaca dengan jelas.
3.      Jaga material/perlengkapan yang sering digunakan
Menjaga material yang mudah diakses tidak hanya mengurangi waktu yang hanya untuk menyiapkan perlengkapan saja tapi juga dapat membantu menghindari penundaan pengajaran. Alasan seperti ini logis karena apabila guru atau siswa yang menyiapkan peralatan yang sebenarnya telah memasuki jam pengajaran maka siswa lain akan teralihkan perhatiannya dengan peristiwa tersebut dan juga jam pengajaran guru tersebut akan berkurang banyak.
4.      Pastikan siswa dapat dengan mudah melihat presentasi ataupun media pengajaran
Ketika Anda dan siswa sedang presentasi/ diskusi kelas, pastikan bahwa pastikan bahwa tempat duduk siswa dapat melihat LCD atau media lain tanpa harus memindahkan banyak bangku, kondisi seperti itu membuat para siswa memperhatikan.

Display untuk di dinding ruangan kelas:
§  Peta Indonesia/dunia
§  Kalender
§  Arti sila-sila
§  Materi mata pelajaran/kuliah
§  Foto tokoh besar bangsa

Pengelolaan Sumber Ajar

Pengertian Sumber Ajar
1.      Menurut Association Educational Comunication and Tehnology (AECT) sumber belajar yaitu berbagai atau semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan siswa dalam belajar, baik secara terpisah maupun terkombinasi sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajar.
2.      Menurut Sudjana, sumber belajar bisa diartikan secara sempit dan secara luas. Pengertian secara sempit diarahakan pada bahan-bahan cetak. Sedangkan secara luas tidak lain adalah daya yang bisa dimanfaatkan guna kepentingan proses belajar mengajar, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Jadi sumber ajar/belajar adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan atau digunakan seseorang untuk memfasilitasi segala kegiatan belajar, baik itu secara terpisah maupun secara terkombinasi agar dapat mempermudah seseorang dalam mencapai tujuan belajar yang diinginkan.
Secara umum sumber belajar dapat dikategorikan kedalam 6 (enam) jenis, yaitu:
1.      Pesan
Informasi yang akan disampaikan oleh komponen lain; dapat berbentuk ide, fakta, makna dan data.
2.      Orang
Orang yang bertindak sebagai penyimpan dan menyalurkan pesan antara lain: guru, instruktur, siswa, ahli, nara sumber, tokoh masyarakat, pimpinan lembaga, tokoh karier dan sebagainya.
3.      Bahan
Barang-barang yang berisikan pesan untuk disampaikan dengan menggunakan peralatan; kadang-kadang bahan itu sendiri sudah merupakan bentuk penyajian contohnya: buku, transparansi, film, slides, gambar, grafik yang dirancang untuk pembelajaran, relief, candi, arca, komik, dan sebagainya.
4.      Alat/ perlengkapan
Barang-barang yang digunakan untuk menyampaikan pesan yang terdapat pada bahan misalnya: perangkat keras, komputer, radio, televisi, VCD/DVD, kamera, papan tulis, generator, mesin, mobil, motor, alat listrik, obeng dan sebagainya.
5.      Pendekatan/ metode/ teknik
Prosedur atau langkah-langkah tertentu dalam menggunakan bahan, alat, tata tempat, dan orang untuk menyampaikan pesan; misalnya: diskusi, seminar, pemecahan masalah, simulasi, permainan, sarasehan, percakapan biasa, diskusi, debat, talk shaw dan sejenisnya.
6.      Lingkungan/latar
Lingkungan dimana pesan diterima oleh pelajar; misalnya: ruang kelas, studio, perpustakaan, aula, teman, kebun, pasar, toko, museum, kantor dan sebagainya.
















BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan


Setelah mengetahui pengertian pengelolaan, pengertian pengelolaan guru, siswa dan bahan ajar dari berbagai sumber, dapat disimpulkan bahwa pengertian pengelolaan pengajaran dalam uraian ini hanya dibatasi pada bagaimana mengatur kurikulum disekolah. Artinya, bagaimana menerapkan isi kurikulum ke dalam proses belajar mengajar yang disajikan dalam satuan pengalaman belajar agar dapat diterima oleh siswa. Jadi yang dimaksud dengan pengelolaan pengajaran di sini adalah setiap usaha yang dilakukan oleh pihak sekolah untuk mengatur dan mengelola seluruh kegiatan, baik yang bersifat teori akademis maupun yang bersifat praktek.
Demikian pula halnya organisasi pengelolaan kelas dalam proses pengajaran, bahwa di mana ketergantungannya dari tujuan pengelolaan kelas menjadi tata laksana yang berperan aktif untuk menentukan dan menciptakan kondisi fisiologi dan psikologi untuk memfokuskan pada belajar. Suasana perasaan, pikiran dan ingatan untuk tertuju kepada materi yang diberikan. Dapat disimpulkan juga bahwa pengelolaan kelas yang efektif adalah salah satu keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan ketrampilan untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal dengan cara yang efektif. Maka dari itu, kelas yang efektif tersebut perlu diwujudkan secepatnya.

B.     Saran


Kematangan pendidik, kesiapan bahan ajar dan ruangan adalah hal yang sangat vital dalam berlangsungnya proses belajar-mengajar yang baik dan benar demi memenuhi kebutuhan para peserta didik. Dalam hal ini, penulis menyarankan agar pemerintah lebih banyak lagi mengalokasikan dananya untuk kepentingan pendidikan. Pengawasan dan evaluasi pun perlu agar dana tersebut teralokasikan dengan baik, efisien dan efektif. Orang tua pun perlu ikut serta dalam mengembangkan pengelolaan pengajaran dengan memberikan ide-ide dan gagasan mereka.





Daftar Pustaka

Arief. 2013. “Pengelolaan Siswa”. http://rief.blogspot.com. Diunduh 1 April 2014

Alldham. 2011. “Sumber Belajar Menurut Para Ahli Beserta 6 Jenis Sumber
Belajar Secara Umum”. http://alldham.wordpress.com. Diunduh 10 April
2014

Fauziah. 2008. “Peran Guru dalam Pembelajaran”. http://massofa.wordpress.com.
Diunduh 10 April 2014

Ginanjar, Budi. 2011. “Apakah Pengertian dari Pengelolaan Pengajaran di
            Sekolah”.  http://kumpulanbookdiak.blogspot.com. Diunduh 9 April 2014

Wijaya, Cece. 1995. Pendidikan Remedial. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.


Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar